logo rilis
Ini Cara Teroris Rekrut Anggota Baru
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
16 Mei 2018, 14:50 WIB
Ini Cara Teroris Rekrut Anggota Baru
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafiz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Jakarta, Solahudin mengatakan, proses rekrutmen yang dilakukan oleh para kelompok radikal tak menggunakan media sosial. Pasalnya, kata dia, para kelompok ekstrim itu tak terlalu percaya terhadap media sosial untuk sarana rekruitmen anggota barunya. 

"Banyak kasus penipuan terjadi di channel Telegram yang terkait ISIS. Kasus Susan Elmira, si penipu pemalsuan dokumen untuk kelompok terorisme, dan Elang, penipu perempuan yang hendak berhijrah ke Suriah, menjadi contoh di antara sekian banyak kasus," kata Solahudin di kawasan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (16/5/2018). 

Dari keterangan 75 napi teroris, ungkap Solahudin, tercatat hanya sebanyak tujuh kasus atau 9 persen yang bergabung dengan kelompok ekstrimis melalui medsos. Sisanya, imbuh dia, 91 persen direkrut melalui offline, yakni tatap muka dan melalui forum keagamaan. 

Dia menambahkan, di Indonesia metode tatap muka langsung masih menjadi pilihan kelompok teroris lantaran adanya kebebasan untuk berekspresi dan berkumpul. Sehingga, masih sangat mudah menemukan momen-momen offline yang menyiarkan propaganda ISIS.

"Terlebih di negeri ini, UU Terorisme tidak memiliki satu pasal pun yang bisa menjerat orang yang mempromosikan tentang terorisme. Itulah sebabnya, kelompok ini cenderung tidak memerlukan online," imbuhnya. 

Meski begitu, ungkap Solahudin, peran media sosial masih digunakan untuk penyebaran konten-konten radikalisasi. 

“Peran medsos bagi kelompok ekstrimis di Indonesia berbeda dengan di negara lain. Di Eropa, radikalisasi dan rekrutmen melalui medsos. Demikian juga di Malaysia. Tapi di Indonesia berbeda. Radikalisasi memang menggunakan medsos. Tapi rekrutmen lebih banyak dilakukan secara offline,” paparnya. 

Editor: Elvi R


500
komentar (0)