logo rilis

Ini Cara Risma Hadapi Teror Bom di Surabaya
Kontributor
Kurnia Syahdan
23 Mei 2018, 12:26 WIB
Ini Cara Risma Hadapi Teror Bom di Surabaya
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. FOTO: RILIS.ID/Ainul Ghurri

RILIS.ID, Surabaya— Teror bom bunuh diri di tiga gereja, Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018), kemudian di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018), membuat trauma mendalam di kalangan warga Kota Pahlawan tersebut.

Dan menjadi tugas dari Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, dalam memberikan rasa aman dan nyaman kepada warganya setelah kejadian itu. 

Berbagai upaya dilakukan orang nomor satu di Surabaya ini, seperti bergerak cepat menghadapi peristiwa teror bom di Kota Surabaya. 

Ada lima jurus atau langkah taktis yang dilakukan Risma dalam menghadapi teror bom dalam sepekan ini.

Adapun lima jurus tersebut, pertama aksi, Risma langsung turun ke lapangan meninjau tiga gereja dan Mapolrestabes Surabaya yang terkena teror. 

Bahkan, Risma terlihat ikut mendampingi kunjungan Presiden RI Joko Widodo dan Kapolri Jendral Polisi Tito Karnavian ke sejumlah lokasi pengeboman.

Selanjutnya, Risma mengumpulkan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya dan meminta ASN-nya untuk membantu kerja kepolisian.

Tidak hanya itu, Risma juga ikut turun mengikuti penggerebekan rumah terduga teroris yang dilakukan oleh Densus 88 di rumah milik keluarga pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Jalan Wonorejo Asri Blok K/22A, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Minggu (13/5/2018) malam.

"Ini adalah cobaan. Kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh kalah dengan hal-hal yang sifatnya menakut-nakuti warga Surabaya. Ingat kita punya Tuhan Yang Mahakuasa," kata Risma kepada warga Surabaya.

Jurus selanjutnya yaitu simpati. Orang nomor satu di Kota Surabaya ini menunjukkan rasa simpatinya kepada para korban teror bom, dengan menjenguk korban luka-luka yang dirawat di rumah sakit dan mengunjungi keluarga dari korban meninggal dunia di rumahnya.

Bahkan, dia juga menyempatkan waktu untuk melayat ke rumah korban yang meninggal seraya menguatkan para keluarga yang ditinggalkannya. 

Risma bersama rombongan mendatangi rumah duka almarhum Aloysius Bayu Rendra Wardhana yang menjadi salah satu korban meninggal dunia dari ledakan bom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya. 

Sosok Bayu menjadi perbincangan setelah dia disebut melakukan aksi heroik, menghadang motor pengebom di depan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Nomor 1, Gubeng, Surabaya.

Atas tindakannya yang menghentikan sepeda motor yang dikendarai Yusuf Fadhil (18) yang membonceng adik kandungnya, Firman Hakim (16), sambil memangku bom rakitan, Bayu menjadi pahlawan karena mampu menyelamatkan sekitar 500 anggota jemaat Gereja SMTB yang sedang mengikuti akhir dari misa atau kebaktian rutin.

Bayu berhasil membuat laju motor Yusuf Fadhil terhenti dan langsung meledak di halaman gereja. Seketika itu pula, tubuh Bayu yang tinggi itu hancur bersama kedua pengendara dan pembonceng motor yang menabraknya.

Kemudian jurus dialog. Tidak mau kejadian serupa terjadi lagi di Kota Surabaya sehingga dia langsung menggelar sejumlah dialog, di antaranya menggelar dialog dengan RT/RW.

Saat bertemu dengan RT/RW, dia mengimbau mereka untuk selalu mendeteksi dini dan menekankan agar tetap waspada terhadap orang-orang yang mencurigakan dan tidak mudah terprovokasi.

"Saya juga minta warga untuk ikut mem-pressure ruang gerak pelaku teror. Makanya, siskamling dan PAM swakarsa kalau bisa mohon untuk diaktifkan kembali," kata Risma kepada para RT/RW di Surabaya.

Ciri-Ciri Pelaku Wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya itu juga menjelaskan ciri-ciri para pelaku teror yang tinggal di tengah-tengah masyarakat. 

Biasanya, orang seperti itu justru lebih sopan dan ramah terhadap tetangga.

Namun, lanjut dia, untuk kehidupannya keseharian ataupun pekerjaannya, mereka akan lebih tertutup. 
Risma mengimbau jika ada warga yang dicurigai, jangan memaksa untuk mengatasinya.

Hal itu ditekankan Risma karena tidak mau terjadi apa-apa dengan warganya. 

Dia meminta warga memberikan informasi apa saja yang diterimanya dan biar aparat keamanan yang bergerak.

Selain itu, Risma juga berdialog dengan kepala sekolah se-Surabaya. 

Saat itu, dia meminta kepala sekolah untuk berkomunikasi dengan wali kelas agar mampu mendeteksi anak-anak yang mengalami perilaku aneh ketika berbicara.

Menurut dia, hal itu akan menjadi informasi awal untuk ditindaklanjuti. 

"Guru BK (bimbingan konseling) dan agama saya minta untuk aktif berinteraksi dengan anak-anak karena sangat berperan penting dalam mengembangkan perilaku dan pola pikir anak," kata dia.

Selanjutnya, Risma juga berdialog dengan Takmir Masjid se-Kota Surabaya. Saat itu, dia menjelaskan bahwa ajaran Islam tidak pernah mengajarkan untuk menyakiti orang lain.

Makanya, dia meminta seluruh takmir masjid untuk terus memegang teguh ajaran rasul. 

Risma juga menjelaskan bahwa Islam itu adalah agama rahmatan lil alamin, yaitu agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia.

"Banyak sekali ayat-ayat di dalam Quran yang menerangkan bahwa Islam itu ajaran yang sangat mulia. Maka dari itu, mari kita bersatu dan saling bersilaturahmi dengan erat. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," katanya.

Jurus berikutnya adalah berdialog dengan guru.

Risma juga mengadakan dialog dengan guru agama se-Kota Surabaya. 

Pada saat itu, Wali Kota Risma menjelaskan manusia hidup itu tidak hanya mengurusi hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga harus memperhatikan hubungan antarsesama manusia.

Hal ini pula yang harus diperhatikan oleh anak-anak di sekolah. 

Risma menekankan agar para siswa-siswi di sekolah digenjot kembali pembelajaran toleransi. Ini perlu dilakukan agar anak-anak bisa lebih peduli kepada sesamanya.

Bahkan, dia juga meminta untuk mengajari anak-anak tentang sejarah yang telah dilalui Indonesia untuk memperoleh kemerdekaannya. 

Anak-anak perlu diingatkan Indonesia punya sejarah yang dibangun dengan berdarah-darah sehingga sangat tidak layak apabila melupakan sejarah.

"Saya mohon mengajarkan bahwa kita punya sejarah dan perjuangan yang sangat luar biasa. Kalau kita sekarang bisa menikmatinya, lalu melupakannya, berarti kita menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih," ujarnya.

Selain itu, Risma juga berdialog dengan para psikolog dan psikiater. 

Saat dialog itu, dia meminta untuk bergandeng tangan menghilangkan rasa takut dan trauma anak-anak Surabaya.

Bahkan, dia juga sudah membuat tim yang terdiri atas para psikolog dan psikiater untuk bersama-sama menyembuhkan kondisi psikis dari anak-anak korban ledakan bom bunuh diri.

Ada juga jurus santunan.

Wali kota yang sarat dengan prestasi ini memberikan santunan kepada korban teror bom yang luka-luka maupun yang meninggal. 

Santunan itu berupa uang, perawatan sampai sembuh bagi korban yang luka-luka, bantuan pemakaman bagi korban yang meninggal, ganti rugi kerusakan bagi korban terdampak teror bom yang mengalami kerugian materiil dan beasiswa bagi anak korban teror bom.

"Semua nanti pengobatan hingga pemakaman dan lain-lain, itu akan ditanggung oleh Pemerintah Kota Surabaya. Jadi, keluarga 'ndak' perlu khawatir, pemkot akan bantu selesaikan nanti," katanya.

Jurus terakhir, pemberian penghargaan. Apresiasi ini untuk memberikan aspirasi kepada semua pihak yang telah membantu penanganan teror bom di Surabaya.

Risma memberikan penghargaan yang diserahkan pada Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) Ke-110. 
Penghargaan itu diberikan kepada pihak rumah sakit, universitas, psikolog, dan kepolisian.

Pada kesempatan itu, Risma menegaskan teror bom di Surabaya tidak membuat penduduk Kota Pahlawan larut dalam duka dan amarah. 

Justru sebaliknya, peristiwa itu makin menguatkan rasa persatuan dan kesatuan antarumat beragama.

"Tidak boleh menyerah. Usaha dan niat baik yang sudah lama kita pupuk jangan sampai dirusak oleh orang-orang yang ingin memecah belah kerukunan sesama manusia. Kita harus bekerja sama dan berinteraksi," katanya.

Apresiasi Kalangan DPRD Kota Surabaya memuji upaya cepat yang dilakukan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dalam mengatasi situasi dan kondisi pascateror bom yang terjadi dalam sepekan ini.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)