logo rilis

Ini Cara Budidaya Kol Dataran Rendah yang Menguntungkan
Kontributor
Kurnia Syahdan
05 Mei 2018, 10:05 WIB
Ini Cara Budidaya Kol Dataran Rendah yang Menguntungkan
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Bunga kol (Brassica oleraceae) merupakan jenis sayuran yang terbilang sebagai "habitat" sayuran yang cocok tumbuhnya di dataran tinggi.

Kini, berkat kemajuan teknologi budidaya, bunga kol pun bisa dikembangkan di dataran rendah. 

Melalui kajian yang dilakukan di kegiatan visitor plot BPTP Kalimantan Tengah, sayuran bernilai ekonomis tinggi ini mampu tumbuh dengan baik di lahan marginal dataran rendah Kalimantan Tengah.

Menurut peneliti bidang hortikultura, BPTP Kalteng, Anang Firmansyah, harga bunga kol di Palangka Raya cukup menarik berkisar antara Rp15 hingga Rp30 ribu per kilogramnya.

Ada enam varietas bunga kol yang sudah dikaji BPTP Kalteng yaitu PM 126, Mona, Diamond, Bima 45, Ilona, dan Snow White.

Produksi bunga kol ini, kata Anang, selain tergantung varietas, teknik budidaya dan musim, juga umur panen. Umur panen yang terbaik umumnya 55 HST (Hari Setelah Tanam). 

Produksi bunga kol mencapai 0,507 hingga 0,680 kiloogram per butir, dengan tingkat kemanisan 5,5 hingga 8,7 persen. 

Tingkat kemanisan mahkota mencapai 6,5 hingga 10,2 persen dan tingkat kemanisan tangkai  mahkota 4,6 hingga 7,3 persen.

Budidaya bunga kol, diawali dengan pembibitan dengan sistem tebar di media semai berupa kotak kayu, seminggu kemudian ditanam di potray selama 2 minggu dan kemudian ditanam di tanah lapang. 

Penanaman sistem baris ganda 40x60 centimeter dengan mulsa plastik hitam perak. Lahan diolah gembur dengan bedengan lebar 1 meter dan tinggi 20 centimeter. 

Pemberian pupuk dasar seminggu sebelum tanam yang digunakan adalah pupuk kandang ayam 20 t per hektare, Dolomit 2 t per hektare, NPK 16:16:16 300 kilogram per hektare, SP 36 300 kilogram per hektare dan KCl 250 kilogram per hektare. 

Pupuk susulan digunakan sistem kocor pada umur 7 dan 14  HST masing-masing digunakan 0,6 kilogram NPK 16:16:16 + 0,3 kilogram Urea dilarutkan dalam 1 drum air (200 liter).

Umur 21 HST digunakan 0,6 kilogram NPK 16:16:16 + 0,3 kilogram Urea + 0,8 KCl dilarutkan dalam 1 drum air. 
Kemudian ketika berumur 28 HST digunakan 1,2 kilogram NPK 16:16:16 + 0,6 kilogram Urea + 0,8 KCl dilarutlan dalam 1 drum air. 

Dilanjutkan dengan umur 35 HST digunakan 1,2 kilogram NPK 16:16:16 + 0,6 kilogram Urea + 0,8 kilogram KCl dilarutkan dalam 1 drum air.

Setiap pemberian pupuk susulan sebesar 200 cc per lubang.

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara rutin dan melihat gejala serangan di lapangan.

Semoga pengembangan budidaya bunga kol dataran rendah dapat menjadi suatu terobosan dan celah bisnis baru bagi petani di Kalimantan Tengah.


 

Sumber: Dedy Irwandi


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)