logo rilis
Ini Cara Atasi Anak Susah Makan agar Terhindar dari Kekerdilan
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
05 November 2019, 13:30 WIB
Ini Cara Atasi Anak Susah Makan agar Terhindar dari Kekerdilan
FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Pontianak— Memiliki buah hati yang susah makan adalah satu hal permasalahan yang kerap kali membuat orang tua cemas. Padahal, makan yang cukup adalah syarat bagi anak untuk mencukupi gizinya agar terhindar dari stunting atau kekerdilan. 

Ahli Gizi dari Universitas Tanjungpura Pontianak, Rahmania, mengatakan, bagi orang tua yang memiliki buah hati yang susah makan, maka harus diberi perhatian khusus agar terhindar dari penyakit tersebut. 

"Anak susah makan itu harus diberikan perhatian penuh dengan beberapa pendekatan agar gizi yang dibutuhkan anak bisa terpenuhi. Dengan gizi terpenuhi maka bisa mencegah atau terhindar dari kekerdilan," katanya di Pontianak, Selasa (5/11/2019). 

Kekerdilan sendiri adalah ketika anak di usia 0 - 5 tahun gagal tumbuh maksimal atau kondisi di mana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya. 

Rahmania menjelaskan, pendekatan yang bisa dilakukan seperti variasi untuk makanan anak, sayur dicampur dengan bahan makanan lainnya, bentuk dan warna makanan yang menarik dan termasuk alat makan untuk menghidangkan makanan anak juga harus menarik agar buah hati ikut tertarik untuk makan.

"Perlu diperhatikan juga dan selama ini kita tidak memperhatikan bahwa anak itu banyak meniru orang tua. Sehingga orang tua juga harus memberikan contoh yang baik. Buah hati akan ikut makan orang tua misalnya seperti waktu makan bersama," papar dia.

Secara umum ia menilai pola makan yang sehat merupakan satu kunci yang dapat mencegah kekerdilan pada anak.

"Untuk mencegah kekerdilan pola makan yang sehat satu di antara solusinya. Umumnya untuk masyarakat luas Indonesia punya pedoman yang namanya piring makanku dan tumpeng gizi. Di situ diberikan contoh secara visual, dalam sehari seberapa banyak yang harus dikonsumsi, juga persentase satu zat gizi terhadap yang lain," jelas dia.

Fenomena di lapangan, ungkap Rahmania, banyak ibu muda yang percaya ilmu atau informasi yang dibagikan di media sosial. Kadang informasi tersebut tidak disertai penelitian.

"Akan tetapi karena dibagikan oleh akun yang terkenal banyak percaya. Jadi pola yang diterapkan juga memang kurang tepat," kata dia.

Ia menambahkan, kasus kekerdilan tidak semestinya soal mapan atau tidaknya orang tua si anak. Kadang juga kepada persoalan pola asuh. Jika orang tua yang mapan sibuk dengan pekerjaannya dan si anak dijaga nenek atau menggunakan jasa asisten rumah tangga atau lainnya.

"Belum lagi ada anak suka ngemil dan karena ngemil ia kenyang. Ia ngemil tadi dari sisi kebutuhan gizi tidak mencukupi. Orang tua menyuruh makan yang sehat ia sudah kenyang. Nah, itu yang perlu juga diperhatikan," katanya. 

Rahmania mengatakan, saat ini di Kalbar dalam kasus kekerdilan berada di posisi tiga besar di Indonesia.

“Kalbar berada di urutan ketiga paling tinggi di Indonesia. Dari 10 anak ada sekitar 3 - 4 orang mengalami kekerdilan di Kalbar. Hal itu menandakan Kalbar cukup parah. Rantai dan perilaku yang menyebabkannya sudah saatnya kita putus,” paparnya. 

Sumber: Antara




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID