logo rilis

Ini Bahayanya bila Pemerintah Menaikkan Harga Rokok
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
29 Mei 2018, 15:48 WIB
Ini Bahayanya bila Pemerintah Menaikkan Harga Rokok
FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan, menaikkan harga rokok di Indonesia tidak serta-merta akan menurunkan angka jumlah perokok.

Justru, kata dia, konsumen malah bisa berbalik arah mengonsumsi rokok murah yang lebih berbahaya.

"Yang terjadi justru adanya perilaku beralihnya konsumen ke rokok yang lebih murah, atau yang paling berbahaya justru meningkatnya peredaran rokok ilegal," kata Bhima di Jakarta, Selasa (29/5/2018).

Dia menjelaskan, hasil riset dari Universitas Gadjah Mada pada 2014 menunjukkan bahwa sekitar 11,7 persen dari 344 miliar batang rokok di pasaran dijual secara ilegal. Menurutnya, jika harga rokok langsung dinaikkan secara drastis maka yang terjadi rokok ilegal semakin mendominasi pasaran.

"Kondisi ini jelas tidak menambah pemasukan cukai, justru kehilangan penerimaan negara bisa membesar," ujar dia.

Bhima menilai, ada pandangan yang keliru bahwa harga rokok Indonesia tergolong murah dibandingkan dengan sejumlah negara lainnya. Pasalnya, lanjut dia, perbandingan harga adalah sesuatu yang bias.

Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, Bhima menjelaskan harga rokok terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9 persen. Sementara di Singapura dan Malaysia masing-masing hanya 1,5 persen serta 2 persen.

"Di Singapura terbukti bahwa harga rokok yang kita anggap mahal ternyata masih dalam jangkauan daya beli penduduk Singapura," jelas dia.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi, menegaskan, harga jual sebatang rokok di Indonesia merupakan yang tertinggi setelah dibandingkan dengan pendapatan per kapita per hari masyarakat.

"Secara nominal harga rokok di Indonesia memang relatif lebih rendah daripada Singapura atau negara maju lain. Tapi kalau kita bandingkan secara relatif terhadap pendapatan per kapita per hari, sebenarnya harga jual satu batang rokok kita termasuk yang tertinggi," ucapnya.

Harga jual rokok di Indonesia sebesar 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) per kapita per hari. Angka ini terbilang tinggi dibandingkan dengan negara maju, seperti Jepang.

Harga jual rokok di Jepang berkisar 0,2 persen dari PDB per kapita per hari.

"Memang nominalnya lebih murah dibandingkan negara-negara maju. Tapi harus kita ingat semua, itu kan dikendalikan juga dari daya beli," paparnya.

Sumber: Antara


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)