logo rilis
Ini adalah tentang Ibu
Kontributor
RILIS.ID
22 Desember 2017, 09:45 WIB
Ini adalah tentang Ibu
Anies Rasyid Baswedan, menyampaikan pidato politik pertamanya usai dilantik di Balai Kota, Jakarta, Senin (26/10/2017).

Oleh Anies Baswedan
Gubernur Provinsi DKI Jakarta

INI adalah tentang Ibu. Namanya Aliyah. Lahir dan besar di kaki Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. 

Baca Juga

Saat lulus SMP, di Kuningan belum ada SMA. Ayahnya menitipkan pada kerabatnya di Cirebon supaya anak perempuan ini bisa meneruskan SMA.

Saat itu sempat jadi bahan “omongan” di kampungnya karena seorang anak perempuan “meninggalkan” rumah bukan karena menikah tapi karena sekolah. Diantar kakak laki-lakinya, Ibu naik oplet ke Cirebon. 

Selesai SMA, ia ingin jadi guru dan diterima di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung jurusan Pedagogi yang kemudian menjadi IKIP Bandung (sekarang UPI Bandung). Tahun 1965, Ibu, seorang anak perempuan yang dulu digunjingkan di kampung itu, menjadi anak pertama dalam sejarah keluarga besar yang pernah ikut wisuda jadi sarjana. Sebuah lembaran baru bagi seluruh keluarga.

Sejak itu Aliyah mengajar di IKIP Bandung hingga mutasi ke IKIP Yogyakarta karena menikah dengann Ayah, Rasyid Baswedan, seorang pria dari Yogyakarta. Mereka berdua sama-sama dosen. Ibu masih mengandung anak pertamanya, yaitu saya, ketika harus bolak-balik Yogyakarta-Bandung karena sudah menikah tapi masih harus mengajar di Bandung.

Hingga kini, 52 tahun kemudian, Ibu masih mengajar, masih membimbing disertasi dan masih terus dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. 

Anak angkatnya, umumnya dari daerah-daerah yang bersekolah di Yogyakarta. Mereka kini ada di mana-mana. Bahkan salah satu anak angkatnya di Sorong, Papua Barat sana membuat masjid dan pusat kegiatan dengan dinamai nama Aliyah. 

Bersyukur beberapa waktu yang lalu sempat mengantar Ibu menengok dia yang kini telah jadi “orang” di tanah asalnya di Papua.

Ibu adalah pendidik pertama, pendidik terutama. Dari Ibu mengalir cinta, kasih, dan doa yang tanpa batas.

Ibu adalah contoh efek perubahan dari visi kesetaraan kesempatan dalam pendidikan. Kakek adalah seorang yang amat sederhana, hidup di kota kecil dan dingin di kaki Gunung Ciremai. Kesehariannya adalah usaha sarung tenun tradisional di rumah. 

Di sana tidak banyak bacaan. Tapi ia rutin dengarkan radio. Ia dengarkan tamu-tamu dari jauh bertutur tentang kemajuan dan tentang perubahan. Ia berkesimpulan: perempuan harus sekolah hingga tuntas.

Itu sesungguhnya adalah kisah perubahan. Memberikan kesempatan belajar pada perempuan memiliki dampak lintas generasi.

Selamat Hari Ibu!


#hari ibu
#gubernur dki jakarta
#anies baswedan
500
komentar (0)