logo rilis
Ingin Maju di Pilkada Serang, Lili Romli Punya Cara Bangkitkan Potensi Generasi Milenial
Kontributor
Zulyahmin
19 Oktober 2019, 10:20 WIB
Ingin Maju di Pilkada Serang, Lili Romli Punya Cara Bangkitkan Potensi Generasi Milenial
Prof DR Lili Romli. FOTO: RILIS.ID/Zulhamdi Yahmin

RILIS.ID, Jakarta— Peneliti di Pusat Penelitian Politik (P2P) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof DR Lili Romli, berencana untuk maju di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serang 2020 mendatang. Dia pun mengaku sudah memiliki banyak gagasan untuk membangun tanah kelahirannya tersebut, salah satunya membangkitkan kaum muda atau generasi milenial. 

Romli mengatakan, tingkat pengangguran di Kabupaten Serang masih tetap tinggi meskipun sudah mengalami penurunan. Padahal, menurutnya, Serang adalah salah satu daerah industri yang banyak berdiri pabrik di kabupaten tersebut. 

Untuk itu, Romli ingin menggali penyebab masih tingginya angka pengangguran di kabupaten tersebut. 

"Nah kita lihat apa sih persoalannya. Apakah karena lulusan SMK-SMK ini tidak sesuai dengan permintaan pasar, atau memang indutri tidak mau menerima SMK," kata Romli saat berbincang dengan rilis.id di kawasan Pejaten, Jakarta, Jumat (18/10/2019). 

Romli mengungkapkan, dirinya berencana untuk membangun sejumlah balai latihan kerja (BLK) di kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Serang. BLK itu, kata dia, penting keberadaannya untuk melatih kemampuan para generasi milenial yang baru lulus SMK agar bisa diterima pasar industri. 

"Jadi pemda itu yang jemput bola, bukan mereka yang melamar. Nah makanya kita didik biar diterima sesuai dengan permintaan industri," ujarnya. 

Selain dilatih agar diterima pasar, lanjut Romli, para generasi muda itu juga dibimbing untuk menjadi pengusaha. Terutama, mengubah pola pikir generasi muda yang sebelumnya ingin kerja di pabrik agar mau menjadi pengusaha. 

"Ini perlu diubah mindsetnya bahwa kalau mau jadi kaya itu ya harus menjadi pengusaha. Dan ini juga akan meningkatkan kemakmuran di masyarakat. Kita ingin ubah mindset bahwa lebih baik jadi pengusaha daripada bekerja di pabrik," jelas Romli. 

"Oleh karena itu, perlu dilatih pemuda itu menjadi pengusaha. Ketika sudah dilatih terus kita modalin. Jadi nanti di BLK dipilah, siapa yang minat ke pabrik ya kita latih skill-nya. Kalau mau jadi pengusaha ya kita latih dan kemudian kita modalin," lanjut dia. 

Romli mencontohkan pengalaman keponakannya yang enggan meneruskan pendidikan di perguruan tinggi dan tidak mau bekerja di pabrik. Ponakannya itu, kata dia, memilih untuk menjadi pengusaha dengan beternak itik dan ikan lele. 

"Karena dia mengukur kalau di dunia industri gajinya paling besar Rp5 juta. Itu akan berapa lama? Akhirnya dia ternak bebek, bebeknya itu bertelur, telur itu kemudian ditetaskan. Satu anak itik harganya Rp7 ribu. Sementara dia juga berternak lele. Jadi telur-telur itik yang enggak jadi itu untuk umpan lele. Dan itu jalan sampai sekarang," tutur Romli. 

"Nah, ini bisa diterapkan untuk pemuda-pemuda lainnya bahwa menjadi pengusaha itu prospektif ketimbang jadi buruh," lanjutnya. 

Dia menilai, ada dua permasalahan yang kerap dihadapi oleh generasi milenial ketika ingin menjadi pengusaha. Dua persoalan itu yakni soal pengetahuan dan keterbatasan modal. 

"Nah, enggak punya pengetahuan soal interpreuner dan enggak punya modal ini yang kita siapkan. Keduanya itu kita siapkan," ungkap dia. 

Romli mengaku, dirinya sangat bertumpu dan berharap kepada para generasi milenial untuk membangkitkan desa-desa di Kabupaten Serang. Karena, menurutnya, sudah terbukti selama ini pemuda yang menjadi penggerak dalam berbagai hal. 

"Pemuda itu punya potensi luar biasa, inovatif, kreatif dan berpikir out of the box. Di media, startup, itu kan digerakkan oleh anak-anak muda," tandasnya. 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID