logo rilis
Ingin Kalahkan Jokowi, PKS Pakai Jurus Ini
Kontributor
Nailin In Saroh
20 April 2018, 12:58 WIB
Ingin Kalahkan Jokowi, PKS Pakai Jurus Ini
Mardani Ali Sera. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Partai Keadilan Sejatera (PKS) masih meyakini Indonesia bakal berganti presiden di 2019 nanti. Meskipun, survei terbaru elektabilitas capres petahana Joko Widodo mendekati angka 60 persen.

"PKS tetap yakin Pak Jokowi dapat dikalahkan pada Pilpres 2019," ujar Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera di Jakarta, Jumat (20/4/2018).

Mardani mengungkap tiga alasan Jokowi bisa dikalahkan. Pertama, ada janji yang belum ditunaikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Misalnya, target pertumbuhan ekonomi 7 persen.

"Sebagian dilanggar seperti tidak rangkap jabatan," katanya.

Kedua, gerakan #2019GantiPresiden bergema di seluruh nusantara. Bukan hanya gerakan di sosial media, menurut Mardani, tapi juga social movement di masyarakat.

"Kaus, pin, topi, selfi di tempat penanda ikon," jelasnya.

Ketiga, kata Mardani, masyarakat merasa hidup kian berat. Contohnya, BBM, pembayaran listrik, harga sembako hingga biaya pendidikan terus meningkat.

Mardani pun mengisyaratkan akan ada gerakan besar masyarakat untuk tidak memilih Jokowi kembali menjadi presiden di Pemilu 2019 mendatang.

"Ada gerak diam di masyarakat yang siap memberi keputusan dahsyat di 17 April 2019," tandasnya.

Diketahui, elektabilitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) tetap unggul berdasarkan hasil survei terbaru yang dilakukan Cyrus Network pada survei selama 27 Maret-3 April 2018.

Secara top of mind, responden disodori pertanyaan "jika Pilpres dilaksanakan hari ini, siapakah yang paling layak dipilih untuk menjadi Presiden?"

Hasilnya, elektabilitas Jokowi unggul dengan 58,5 persen, disusul Prabowo dengan 21,8 persen, Gatot Nurmantyo 2,0 persen dan Hary Tanoesoedibjo 1,1  persen.

"Nama lainnya masih di bawah 1 persen. Belum memutuskan 4,1 persen. Tidak memilih 0,3 persen dan tidak menjawab/rahasia 1,6 persen," terang Managing Director Cyrus Network Eko Dafid Afianto, Kamis (19/4).
 

Editor: Sukma Alam


500
komentar (0)