logo rilis

Inggris Tinggal Selangkah dari Operasi Militer ke Suriah
Kontributor
Syahrain F.
13 April 2018, 17:54 WIB
Inggris Tinggal Selangkah dari Operasi Militer ke Suriah
PM Inggris Theresa May dikabarkan telah menginstruksikan kapal selam Angkatan Laut Kerajaan Inggris untuk bergerak ke wilayah yang tepat untuk menjangkau serangan ke rezim Bashar al-Assad. FOTO: Dok. AL Inggris via EPA

RILIS.ID, London— Kabinet Pemerintahan Inggris bersepakat secara bulat untuk mendukung sikap Perdana Menteri (PM) Theresa May yang mengancam akan bergabung dengan negara-negara lain untuk melancarkan serangan militer ke Suriah.

Ancaman itu merupakan respons Inggris atas dugaan kuat penggunaan senjata kimia oleh rezim Bashar al-Assad ketika melancarkan serangan udara ke kota Douma, di Ghouta Timur, Suriah, pada Sabtu (7/4/2018) lalu. Sumber di lapangan menyebut, serangan itu telah membuat 78 warga sipil meregang nyawa.

Melansir dari The Guardian, May dilaporkan telah menghubungi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melalui telepon guna membahas rencana militer ke Suriah. Keduanya juga dikabarkan telah menyetujui untuk bekerja sama merespons tindakan Assad tersebut dalam kerangka internasional.

Pemimpin Partai Buruh Inggris Jeremy Corbyn bersikap kritis terhadap langkah May. Menurutnya, sikap May mengenai rencana operasi militer ke Suriah seperti menunggu aba-aba AS.

"Pemerintah Inggris tampak seperti menunggu instruksi dari Presiden Donald Trump mengenai langkah yang harus ditempuh. Namun, pemerintah AS dikhawatirkan memberi sinyal yang kontradiktif," tutur Corbyn.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama dua jam tersebut pada Kamis (12/4/2018), jajaran menteri Inggris bersepakat untuk bergabung dengan AS dan Prancis yang juga menyatakan akan merespons serangan kimia Assad.

Salah satu penekanan dari tujuan operasi tersebut adalah mencegah rezim Assad kembali melancarkan serangan yang mereka sebut "mengerikan dan tak manusiawi" itu.

PM May tampaknya tidak akan meminta persetujuan parlemen untuk mengerahkan pasukan militernya ke Suriah. Hal itu berpotensi memunculkan kemarahan dari kelompok oposisi di parlemen dan akan membuat pendapat publik terbelah.

Namun, kesepakatan bulat dari kabinetnya dirasa cukup sebagai dukungan politik bagi May untuk meneruskan rencana tersebut.

Juru bicara Downing Street No 10 (kantor PM) mengatakan, "Kabinet sepakat bahwa rezim Assad memiliki rekam jejak penggunaan senjata kimia, termasuk serangan pada Sabtu lalu. Mereka (kabinet) juga sepakat mengambil langkah untuk mengurangi kesengsaraan penduduk."

Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pernyataannya mengatakan telah memiliki bukti unsur kimia yang tertinggal dalam serangan Assad. Sementara Menteri Pertahanan AS Jim Mattis masih berupaya mencari bukti yang telah lebih dulu ditemukan Prancis tersebut.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)