logo rilis
Industri Mocaf jadi Solusi Kurangi Impor
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
23 Maret 2018, 17:00 WIB
Industri Mocaf jadi Solusi Kurangi Impor
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

UNTUK menghentikan impor gandum sepenuhnya memang tidak mungkin. Namun, solusi mengurangi kebutuhan komoditas tersebut dari luar negeri, masih bisa terwujud. Caranya, mengembangkan industri mocaf (modified cassava flour) sebagai gantinya gandum.

Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi, Yeka Hendra Fatika, mengatakan, Indonesia ini memiliki iklim tropis, yang mana tidak cocok untuk bercocok tanam gandum. Jadi, memang harus impor supaya masyarakat bisa mengonsumsi pangan itu.

"Strateginya bukan menghilangkan impor gandum, tapi mengurangi," kata dia.

Mocaf adalah tepung yang bahan dasarnya dari singkong. Dan, itu mendekati gandum. Karena, bisa menjadi tambahan atau campuran dalam pembuatan olahan panganan seperti roti dan mi instan. Sayangnya, alternatif gandum ini tak dimanfaatkan optimal.

Atau, bisa juga membuat olahan panganan yang dikombinasikan antara gandum dan mocaf dengan persentase masing-masing 50 persen. Dengan begitu, ketergantungan terhadap impor berkurang.

"Kan mocaf itu juga tepung ya, gandum tepung terigu, secara kimiawi bisa dicampur dengan tepung mocaf. Sebetulnya, mocaf bisa efisien bila singkongnya dikelola dengan baik. Soalnya, perhatian kita terhadap singkong itu, tidak ada," ujar Yeka.

Industri mocaf, sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia bila pemerintah mengelola dengan baik tanaman singkong. Bahkan, akan menjadi negara terbesar se-Asia dalam hal tersebut, dengan struktur biaya yang murah.

"Itu harus ada political will untuk mengembangkan industri mocaf secara serius dan berkesinambungan," sebutnya.

Kemudian, memang pemerintah harus punya keberanian bila ingin mengembangkan industri mocaf. Karena, pemain-pemain bisnis impor gandum, tentu tidak tinggal diam bila pemerintah berupaya mengembangkan mocaf. Di sini lah perlunya ketegasan. 

"Yang jelas pelaku bisnis ini dengan impor, yang jutaan itu kan sudah nyaman dengan keuntungannya. Ketika kita kembangkan mocaf, kan ancaman bagi mereka," tegasnya.

Industri mocaf, ungkap Yeka, sebenarnya sudah lama dikembangkan di Indonesia, yakni sejak 2000-an. Tapi, memang industri tersebut tak berkembang sesuai harapan, karena belum ada intervensi pemerintah yang serius.

"Dalam membangun industri mocaf ini kan harus ada kesinambungan inputnya, singkongnya ini. Kalau industrinya dibangun, tapi ternyata bahan bakunya tidak terjaga dan tidak disediakan pemerintah, ya susah," ungkapnya.

Pemerintah mestinya punya visi ke depan yang tepat untuk bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor gandum. Salah satunya dengan memiliki roadmap dengan visi yang jelas.

"Roadmap-nya itu, misal kalau sekarang sudah 12 juta ton. Katakan lah untuk makanannya itu 8 juta ton. Nah, pemerintah harus menerapkan visi, berapa impor gandum yang ditetapkan untuk 20 tahun ke depan. Misal 3 juta ton. Nah pengurangannya, ya mocaf," tambahnya.

Untuk mengembangkan industri mocaf itu, pemerintah bisa dengan cara mengeluarkan regulasi yang memaksa terhadap industri pengolahan makanan seperti mi instan dan roti. Tapi, tetap saja harus dilakukan dengan pelan-pelan dan bertahap.

"Dan untuk mengembangkan industri mocaf, bisa saja kita minta regulasi terhadap industri Indomie di Indonesia wajib harus pakai mocaf, misalnya di tahun 2022 pokoknya semua industri mi 50 persen harus pakai mocaf," tambah dia.

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID