logo rilis
Industri Keuangan Syariah Berpotensi Jadi Lokomotif Ekonomi Nasional
Kontributor

22 Februari 2018, 13:59 WIB
Industri Keuangan Syariah Berpotensi Jadi Lokomotif Ekonomi Nasional
Direktur Bank BJB Syariah Indra Fatalehan. FOTO: Bank BJB Syariah

RILIS.ID, Bandung— Direktur Bank BJB Syariah Indra Falatehan menilai, masa depan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia memiliki masa depan cerah. Bahkan, hal itu berpotensi menjadi lokomotif ekonomi nasional.
 
Menurut Indra, sebagai negara muslim terbesar, Indonesia memiliki pasar yang potensial bagi industri perbankan syariah maupun keuangan berbasis syariah.
 
"Indonesia memiliki potensi besar karena meningkatnya kesadaran masyarakat untuk beragama terutama Muslim. Industri keuangan syariah semakin hari akan semakin baik. Namun secara market share ini yang menjadi masalah karena kami melawan sesuatu yang bergerak," ujar Direktur Bank BJB Syariah Indra Falatehan di Bandung, Kamis (22/2/2018).
 
Geliat ekonomi berbasis syariah di Indonesia sendiri saat ini terus memperlihatkan tren positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga akhir 2017 lalu, penyaluran biaya perbankan syariah tumbuh mencapai 15,75 persen per tahun.
 
Dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai 20,54 persen. Bahkan dari sisi aset, perbankan syariah menunjukan peningkatan yang cukup signifikan yakni mencapai 19,79 persen. Angka tersebut berada di atas tingkat pertumbuhan aset perbankan konvensional yang hanya sebesar 11,20 persen.
 
Namun secara garis besar, perkembangan ekonomi syariah di Indonesia belum sesuai dengan harapan dan potensi yang ada. Hal tersebut tercermin dari market share keuangan syariah Indonesia yang masih relatif kecil yakni hanya berkisar di angka 5 persen. 
 
Angka tersebut berada jauh di bawah negara mayoritas muslim lainnya seperti Uni Emirat Arab dengan 19,6 persen, Malaysia yang mencapai 23,8 persen serta Arab Saudi 51,1 persen.
 
Padahal Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Artinya, pemeluk Islam di Indonesia mewakili nyaris 11 persen dari total populasi muslim dunia. Sebuah potensi yang seharusnya dapat meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi syariah nasional.

Indra mengatakan, salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi syariah adalah, dengan melakukan konversi antara perbankan syariah dengan konvensional. 
 
Hal ini berdasarkan pengalaman yang dimiliki oleh Bank BJB Syariah. Pendirian Bank BJB Syariah diawali dengan pembentukan Divisi/Unit Usaha Syariah oleh PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. pada 20 Mei 2000. Pembangunan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa Barat yang mulai berkeinginan untuk menggunakan jasa perbankan syariah.

Setelah 10 tahun Divisi/Unit Usaha syariah beroperasi, manajemen PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. berpandangan, untuk mempercepat pertumbuhan usaha syariah. Disamping itu, mendukung program Bank Indonesia yang menghendaki peningkatan share perbankan syariah. Maka dengan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. diputuskan untuk menjadikan Divisi/Unit Usaha Syariah menjadi Bank Umum Syariah.
 
Langkah serupa kemudian diikuti oleh beberapa BPD lain, salah satunya Bank Aceh yang melakukan konversi menuju syariah pada tahun 2016 lalu. Konversi tersebut terbukti baik, karena kini dapat meningkatkan pertumbuhan laba Bank Aceh. 
 
"Tahun ini ada Bank NTB yang akan konversi dengan syariah. Saya lihat (konversi) paling mungkin dilakukan. Namun perlu adanya dorongan besar dari pemerintah," ujar Indra.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID