logo rilis

Indonesia Pionir Jaring Wisatawan dengan CDM
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
17 Oktober 2018, 15:49 WIB
Indonesia Pionir Jaring Wisatawan dengan CDM
FOTO: Humas Kemenpar

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, sukses menguji coba teknologi Competing Destination Model (CDM) sebagai digital selling tools untuk menjaring wisatawan mancanegara dari Cina.

Uji coba itu,menempatkan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menggunakan teknologi CDM untuk menjaring wisatawan mancanegara datang berkunjung.

Bekerja sama dengan Zamplus Technology Inc, Shanghai Data Exchange Corp, perusahaan IT yang sudah bermitra dengan ratusan perusahaan kelas dunia dari banyak negara, Menpar Arief Yahya memantau langsung alur Looking, Booking, Payment (LBP) dalam teknologi CDM tersebut.

"CDM mendapatkan booking wisman Cina. Wisman dari Cina yang memilih berwisata ke Indonesia sudah Looking, Booking, Payment. Saya pantau sampai betul-betul konkret. Bulan September naik signifikan," kata Menpar Arief melalui siaran persnya kepada rilis.id, Rabu (17/10/2018). 

Arief mengatakan, teknologi bisa menjangkau semua hal yang selama ini dirasa sulit untuk dilakukan. 

"Secara teknologi, saya bisa membayangkan. Kalau kita bisa membayangkan, maka kita pasti bisa mewujudkannya," ujarnya. 

CDM atau competing sebagai proses mempengaruhi audience atau viewers untuk mengubah keinginan mereka bahkan membelokkan tujuan mereka berwisata dengan menyisipkan promosi Wonderful Indonesia di saat yang tepat.

Timeline yang kritis itu adalah ketika mereka sedang searching, sebelum booking, sampai membuat keputusan booking dan payment.

Seperti diketahui 75 persen wisatawan Cina sudah melakukan looking, booking, dan payment secara online.

Alur kebiasaan mereka dalam berwisata adalah mencari-cari ide atau surfing di internet atau online media.

Kemudian, mereka menemukan banyak content, gambar, video, story yang membuatnya tertarik, di antaranya alam, budaya, maupun buatan. Alam sendiri juga bisa gunung, hutan, sawah ladang, pantai, antar pulau, bawah laut.

IP gadget yang berulang kali mengklik tema content yang sama, gambar, video dan cerita yang sama, terbaca sebagai ketertarikan mereka.

Inilah profile customers yang potensial bagi CDM.

Misalnya, wisman suka mengeksplorasi wisata bawah laut di Thailand, Filipina, Jepang, dan lainnya, saat itulah CDM bekerja dengan mengirimkan aneka keindahan Indonesia langsung ke gadget mereka.

"Karena resources kita memang hebat, baik natural resources maupun cultural resources selalu top 20 dunia, maka kita sangat pede untuk compete dengan destinasi dari mana saja di seluruh dunia. Produk kita kuat, dan sekarang dipromosikan dengan saluran yang pas, di saat yang tepat," jelasnya. 

Kementerian Pariwisata sendiri akan menerapkan teknologi CDM untuk menjaring wisman dari seluruh pasar potensial di mancanegara.

Di antaranya yakni Singapura, Malaysia, Australia, Eropa, Amerika, dan Timur Tengah.

Vice President of Operations and Maintenance Zamplus, Tony Zhou, mengatakan Indonesia pionir dalam penggunaan teknologi CDM.

"Ini pertama kali, Indonesia pionir, dan langkah awalnya sukses. Kami bangga bisa mendukung jauh lebih dalam dari servis yang biasanya kami sediakan. Belum ada negara yang menggunakan teknologi ini sampai ke level selling dan termonitor dengan detail," ungkap Tony Zhou.

Editor: Kurnia Syahdan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)