Home » Peristiwa » Nasional

Indonesia, Nasib yang Tidak Sepenanggungan

print this page Sabtu, 13/1/2018 | 01:43

Nyarwi Ahmad mengulik soal Politik dan Media dalam forum diskusi #RilisCorner, Jumat (12/1/2018). FOTO: RILIS.ID/Yayat Cipasang

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat komunikasi politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad menilai, sebagai bangsa kita senasib, tapi belum sepenanggungan.

"Artinya sistem demokrasi kita belum sepenuhnya berhasil membangun mobilitas kolektif untuk menggapai kesejahteraan,” ungkap Nyarwi dalam forum diskusi #RilisCorner bertajuk "Politik dan Media" di kantor rilis.id, Jumat (12/1/2018).

Peraih gelar Doktor bidang komunikasi politik dan marketing politik di Faculty of Media and Communication, Bournemouth University ini menjelaskan, salah satu faktornya, karena demokrasi di Indonesia masih elitis. Sekalipun kompleks, kecerobohan Parpol dan aktor politik penyebab utama distorsi tersebut.

“Parpol kehilangan roh ideologisnya dan menjadi ajang pelanggengan oligarki, yang juga semakin terancam mengalami pembusukan akibat dominasi kepentingan ekonomi pemodal,” urainya.

“Sehingga yang kaya semakin kaya, dan rakyat tetap jelata,” lanjutnya miris.

Menurutnya, dalam situasi seperti itu populisme yang anti mainstream tumbuh dan berkelindan. Ia mencontohkan tumbuhnya populisme Islam.

“Sekalipun tumbuh (populisme Islam) tidak akan mengancam demokrasi karena Pancasila sudah memagarinya. Yang bahaya itu, populisme yang dimainkan oleh pemilik modal untuk kepentingan tertentu,” bebernya.

Selain itu, hemat Nyarwi, yang juga perlu diperhatikan adalah populisme yang tumbuh dalam frame dan logika yang tertutup. “Karena itu akan melahirkan publik yang brutal,” tandasnya.

Penulis Fatkhurohman Akbar

Tags:

#RilisCornerNyarwi AhmadDemokrasiPopulisme