logo rilis

Indonesia Memiliki Banyak Potensi dalam Mengembangkan Mobil Listrik
Kontributor
RILIS.ID
14 Januari 2019, 14:11 WIB
Indonesia Memiliki Banyak Potensi dalam Mengembangkan Mobil Listrik
Satya Hangga Yudha Widya Putra (paling kanan). FOTO: dok. pribadi

Oleh Satya Hangga Yudha Widya Putra, B.A. (Hons), MSc
Co – Founder Indonesian Energy and Environmental Institute (IE2I) dan Penerima Beasiswa LPDP

    
DUINA masih sangat bergantung pada transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil dan Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, tentu bukan pengecualian. 

Namun, dengan meningkatnya kelas menengah yang memiliki daya beli yang lebih kuat, urbanisasi yang cepat, dan peningkatan populasi, pemerintah Indonesia dan masyarakatnya perlahan-lahan menjadi lebih sadar dan peduli terhadap lingkungan setelah pemerintah Indonesia menandatangani Perjanjian Paris yang sekarang sudah menjadi Undang-Undang No. 16/2016. 

Undang-Undang No. 16/2016 adalah sebuah perjanjian dimana Indonesia harus mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 persen pada tahun 2030 atau 41 persen dengan dukungan internasional termasuk teknologi dan keuangan.

Salah satu dari banyak cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mencapai target ini adalah dengan berinvestasi pada mobil listrik, yang sudah menjadi bagian dari visi pemerintah Indonesia, yaitu memiliki mobil dengan emisi karbon yang rendah, termasuk mobil listrik, setidaknya seperlima dari semua mobil yang diproduksi di negara ini pada tahun 2025 - ini berarti 2,1 juta unit untuk mobil roda dua. 

Meskipun masih membutuhkan waktu bagi pemerintah Indonesia untuk menentukan kerangka peraturan dan fiskal yang tepat untuk mobil listrik di Indonesia dan topik mobil listrik saat ini sedang diperdebatkan oleh beberapa kementerian karena memerlukan sinergi antara berbagai kementerian, Menteri Perindustrian Indonesia Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pemerintah berencana untuk memotong pajak barang mewah 40 persen atas penjualan mobil listrik serta secara drastis memotong pajak impor untuk barang-barang ini dari 40 persen hingga 5 persen. Pemerintah saat ini sedang membahas hal ini dan sebuah keputusan diharapkan akan segera diambil.
    
Saat ini, mobil listrik itu 30 persen lebih mahal daripada mobil konvensional di Indonesia. Jika lebih terjangkau, maka permintaan untuk mobil listrik diperkirakan akan meningkat dan dengan demikian investor akan menjadi lebih bersedia untuk berinvestasi dalam fasilitas manufaktur. Penggunaan mobil listrik seperti hibrida plug-in hybrid umumnya lebih efisien dan lebih murah dalam hal konsumsi energi dibandingkan dengan mobil konvensional. Mobil hybrid dapat menghemat energi hingga 50 persen sementara tipe plug-in menghemat energi antara 75 persen sampai dengan 80 persen.

Namun, Indonesia akan membutuhkan fasilitas yang cukup untuk mengisi ulang baterai mobil listrik. Saat ini Indonesia hanya memiliki 1.500 sumber tenaga listrik untuk mobil listrik. Tetapi 1.100 berlokasi di Jakarta, sehingga sangat sulit bagi konsumen di luar ibukota untuk menggunakan mobil listrik. Perusahaan Listrik Negara (PLN), perusahaan listrik milik negara Indonesia dan satu-satunya produsen pasokan dan distribusi listrik, adalah satu-satunya perusahaan yang dapat mengembangkan dan memasang stasiun pengisian daya listrik di Indonesia.

Meskipun tantangan tetap ada, tidak seperti mobil konvensional yang membutuhkan ribuan komponen, mobil listrik cukup sederhana. Komponen utama adalah Power Control Unit (PCU), baterai, dan motor listrik. Agar Indonesia menjadi produsen mobil listrik yang kuat, pemerintah perlu mengembangkan industri ketiga komponen ini di dalam negeri. Ini adalah sesuatu yang dikhawatirkan oleh pengusaha dalam pengembangan mobil listrik karena mobil listrik berpotensi meningkatkan impor komponen otomotif. Ini karena industrinya masih belum tersedia di Indonesia, padahal industri otomotif dalam negeri saat ini mampu mengekspor ke berbagai negara. 

Untuk memastikan bahwa kami tidak mengimpor komponen mobil listrik, Indonesia harus dapat membangun pabrik baterai lithium sendiri. Baterai lithium dipilih karena ramah lingkungan dan dapat didaur ulang. Pembangunan pabrik di Morowali, Sulawesi Tengah, akan dimulai tahun ini. Mengingat pembangunannya memakan waktu sekitar dua tahun, pabrik akan mulai berproduksi pada tahun 2021. Saat ini, investor dari Cina, Jepang dan Korea Selatan tertarik untuk menginvestasikan modalnya senilai US$4,3 miliar (setara dengan Rp61,5 triliun). 

Pada tahap awal, mereka akan mengucurkan US$700 juta dan itu hanya investasi awal karena di masa depan akan ada jenis baterai lainnya. Jika Indonesia ingin menjual mobil listrik secara komersial maka setidaknya 20 persen harus diproduksi secara lokal.

Kolaborasi antara pemangku kepentingan yang relevan, termasuk pemerintah Indonesia baik legislatif maupun eksekutif, produsen peralatan asli, dan pemain infrastruktur, sangat penting untuk berhasil dalam mengembangkan mobil listrik di Indonesia. Dengan kebijakan dan insentif fiskal yang tepat serta pola pikir yang mendukung, Indonesia tentu saja dapat membuat semua jenis mobil listrik layak secara komersial dan mencapai tujuannya memiliki 20 persen mobil rendah emisi karbon pada tahun 2025.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID