logo rilis
Indonesia Dinilai Sedang Mengalami Ledakan Partisipasi Politik
Kontributor

01 September 2018, 21:50 WIB
Indonesia Dinilai Sedang Mengalami Ledakan Partisipasi Politik
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

RILIS.ID, Jakarta— Pakar komunikasi politik dari Universitas Gajah Mada (UGM), Nyarwi Ahmad menilai, partisipasi politik Indonesia tengah "meledak" sekarang-sekarang ini.

Hal ini terlihat dari kondisi pengguna media sosial, mulai dari facebook, twitter, instagram, dan lainnya, kerap membicarakan konten-konten politik.

"Tagar 2019 Ganti Presiden atau tagar 2019 Tetap Bersaudara, merupakan satu metamorphosis partisipasi politik. Partisipasi bertemu antara yang 'online' dan 'offline'," kata Nyarwi di Kompleks Parlemen, kemarin.

Nyarwi sendiri menyambut baik kondisi ini, karena partisipasi politik adalah substansi atau inti dari demokrasi. Tidak ada demokrasi tanpa partisipasi.

"Ini positif karena partisipasi kelas menengah yang sebelumnya malu-malu sekarang muncul dan menguat. Bahasa-bahasa politik tidak lagi dengan bahasa standar, yang formal, ilmiah. Tapi bahasa visual, seperti meme," tuturnya.

Penggunaan media sosial di Indonesia termasuk terbesar di dunia. Partai politik harus bisa memanfaatkan ledakan partisipasi Pemilu 2019 mendatang.

Caranya, dengan mengambil peran atas narasi-narasi di medsos. Atau menggaet aktor-aktor penting untuk masuk dalam partai politik.

"Saya optimistis ledakan partisipasi politik di Indonesia, seperti terlihat dalam aktivitas diskusi, platform politik, bisa memberi manfaat positif. Artinya orang peduli dengan dunia politik. Itu sudah satu poin," ujar dia.

Sementara itu, anggota MPR dari Fraksi PKB, Abdul Kadir Karding, mengatakan partisipasi politik menjadi ukuran bagi demokrasi.

Kalau partisipasinya besar dianggap demokrasi lebih baik. Tapi kalau partisipasinya rendah maka menjadi lampu kuning bagi demokrasi. Partisipasi bisa menjadi ukuran legitimasi sebuah kekuasaan.

"Saya kira para politisi harus secara cerdas dan kreatif menggunakan instrumen media komunikasi seperti media sosial untuk menggerakan kesadaran masyarakat akan hak dan kewajiban memilih. Medsos harus menjadi instrumen," kata Karding.

Sumber: ANTARA




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID