logo rilis

Indonesia Diimbau Lebih Gencar Sosialisasi Solusi Dua Negara Palestina-Israel
Kontributor

21 Juni 2018, 15:00 WIB
Indonesia Diimbau Lebih Gencar Sosialisasi Solusi Dua Negara Palestina-Israel
ILUSTRASI: Komunikonten

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Eksekutif Institut Media Sosial dan Diplomasi (Komunikonten) Hariqo Wibawa Satria mengimbau hendaknya pemerintah Indonesia gencar menyosialisasikan sikapnya yang mendukung solusi dua negara dalam konflik Palestina-Israel.

Hal ini, ucap Hariqo, agar berbagai organisasi masyarakat di Indonesia bisa memahami dan bergotong royong mendukung sikap pemerintah tersebut.

"Jangan sampai kita terpecah-pecah di dalam, sebab itu membuat Indonesia semakin diremehkan bangsa lain. Jika, di banyak negara sunni-syiah bertempur, maka di Indonesia harus akur. Jika, kerukunan antarumat beragama di negara lain buruk, di Indonesia harus baik," papar alumnus S-2 jurusan diplomasi internasional dari Universitas Paramadina, Jakarta, Kamis (21/6/2018).

Menurut Hariqo, sikap Indonesia yang mendukung solusi dua negara sudah tegas disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, AM Fachir di Paris, Perancis, 15 Januari 2017.

"Indonesia mendukung solusi dua negara dan kemerdekaan Palestina hanya dapat dicapai apabila seluruh isu utama seperti pemukiman ilegal, pengungsi Palestina, status kota Yerusalem, status perbatasan dan masalah keamanan serta air dapat diselesaikan," paparnya.

Bukan hanya Indonesia yang bersikap demikian, katanya. Palestina dan kelompok Yahudi liberal juga setuju dengan solusi dua negara. Walaupun, paparnya, Israel dan kelompok Yahudi radikal masih sangat egois untuk tidak mengakui Palestina sebagai sebuah negara.

"Di internal Palestina juga beda, faksi Hamas belum mau mengakui Israel, sementara faksi Fatah menerima solusi dua negara," jelas Hariqo yang tesis program magisternya membahas persoalan Palestina-Israel.

Lebih lanjut, Hariqo menambahkan, Amerika Serikat tidak bisa diharapkan sebagai juru damai, karena Amerika Serikat jelas mendukung Israel. Demikian juga dengan Iran yang mendorong referendum semua penduduk asli Palestina, meliputi Muslim, Yahudi, dan Kristen.

"Mungkin posisi Amerika dan Iran benar dari sisi kepentingan nasional mereka, namun untuk mewujudkan perdamaian Palestina-Isreal, posisi kedua negara ini harus dikoreksi, terutama oleh warganya masing-masing, media sosial dapat dimanfaatkan untuk itu," tuturnya.

Hariqo juga menjelaskan posisi beberapa negara lainya terkait konflik Palestina-Israel. Arab Saudi, misalnya mendukung solusi dua negara, seperti halnya Rusia, dan Turki. Termasuk juga PBB yang mendorng solusi dua negara.

Ia pun menilai, Indonesia berpeluang jadi mediator karena Indonesia memiliki wasathiyyah Islam yang lebih baik ketimbang negara-negara berpenduduk muslim mayoritas lainnya.

"Namun, kekuatan ekonomi, militer, diplomasi kita belum kuat. Karenanya, Indonesia harus punya kelebihan yang tidak dimiliki negara lain, apakah Indonesia harus punya nuklir juga,misalnya? Silakan saja dikaji," papar Hariqo.

Menurut Hariqo, keinginan menghilangkan bangsa lain dari dunia adalah kebencian yang paling berbahaya dan telah menimbulkan banyak pembunuhan juga dendam. Pentingnya menghilangkan kebencian pernah disampaikan Bung Karno di Sidang Umum PBB, 30 September 1960 dalam pidato berjudul "To Build The World A New".

"Intinya Bung Karno mengatakan, bukan perlucutan senjata yang melahirkan perdamaian, tetapi perlucutan kebencian dan ketidakpercayaan dari manusia," pungkas Hariqo.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)