logo rilis
Indonesia Bubar, INDEF: Ini 'Warning'
Kontributor
Nailin In Saroh
28 Maret 2018, 18:10 WIB
Indonesia Bubar, INDEF: Ini 'Warning'
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati menilai, pernyataan Ketua Umum Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia bubar 2030 sebagai peringatan dini terhadap kondisi Indonesia sekarang.

Menurut dia, ini khususnya terkait ekonomi nasional yang dihantui meningkatnya hutang negara. Maka itu, ia menyarankan agar pemerintah mengevaluasi kebijakannya, agar tak memperparah kondisi tersebut. Salah satunya soal impor.

"Kalau pun tidak bubar 2030, tapi itu warning. Sekarang garam aja impor, gandum tiap tahun impor naik terus. Ini yang mestinya menjadi evaluasi bersama," ujar Enny dalam diskusi Pas Fm bertajuk "Capres Cawapres Ideal di Mata Ekonom" di Hotel Mercure, Glodok, Jakarta Barat, Rabu (28/3/2018).

Menurutnya, pemerintah saat ini harus menerima segala kritik sebagai koreksi dan solusi dari masalah di pemerintahan. Bukan sebaliknya, menjadi antipati dari suara-suara masyarakat.

"Mudah-mudahan suara civil society yang kritis bukan malah dimusuhi. Kan, kalau berteman yang mau menunjukkan kesalahan kita itulah teman sejati," tukas Enny.

Anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan menilai, utang yang terus diproduksi pemerintah kian membebani APBN. Jumlahnya kini sudah menembus Rp4.034,80 triliun, di mana angka tersebut dinilai sudah mengkhawatirkan.

Ia agar pemerintah tetap prudent dalam mengelola utang dan selalu terbuka menerima kritik. Kalau tidak, utang ini bukan tidak mungkin akan tembus Rp5.000 triliun.

"Pemerintah harus mengevaluasi efektivitas defisit APBN yang diakibatkan oleh kebijakan fiskal ekspansif," tambah dia.

Idealnya, ekspansi fiskal harus berdampak pada peningkatan produktifitas yang tercermin pada peningkatan penerimaan negara dan menurunnya pembiayaan defisit ke depan.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


500
komentar (0)