logo rilis
INDEF: Kebutuhan Pokok Naik Seiring Melemahnya Rupiah
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
08 Mei 2018, 16:30 WIB
 INDEF: Kebutuhan Pokok Naik Seiring Melemahnya Rupiah
Ilustrasi rupiah. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, memastikan, lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan berdampak pada harga barang kebutuhan pokok. 

Menurutnya, harga jual barang kebutuhan pokok juga akan terus naik, seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tersebut. 

"Saya ambil contoh bawang putih yang 85 persen lebih pasokannya impor. Mendekati Lebaran permintaan secara musiman tinggi. Ini yang harus diperhatikan pemerintah karena inflasi langsung memukul daya beli masyarakat miskin," kata Bhima kepada rilis.id, Selasa (8/5/2018). 

Bhima menjelaskan, depresiasi rupiah akan langsung terasa ke biaya impor yang meningkat cukup tinggi baik bahan baku, barang modal dan barang konsumsi. 
Apalagi, lanjutnya, sebagian besar barang impor itu menggunakan kapal asing yang membutuhkan dolar. 

"Jadi logistic cost pasti makin membebani industri domestik. Sementara daya beli sedang lesu, jadi penjual tidak akan sembarangan menaikkan harga barang. Kondisi ini menggerus pendapatan pelaku usaha," ujar Bhima. 

Dia menambahkan, pelemahan rupiah juga akan menaikkan biaya impor minyak. 

Menurutnya, pada 2017 lalu neraca migas defisit 8,5 miliar dolar karena impor minyak bengkak hingga 24,3 miliar dolar.

"Ini enggak sehat dan pengaruhi harga BBM non-subsidi yang dipakai angkutan barang kebutuhan pokok," pungkasnya.
 

Editor: Kurniati


500
komentar (0)