logo rilis

Indef: Indonesia Terdampak Perang Dagang AS-Cina
Kontributor
Ainul Ghurri
29 Maret 2018, 15:10 WIB
Indef: Indonesia Terdampak Perang Dagang AS-Cina
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Peneliti dari Institute for Development and Finance (Indef), Naylul Huda menilai, perang dagang antara Amerika dan Cina akan berdampak dan merugikan Indonesia. 

Menurutnya, Amerika merupakan salah satu negara utama tujuan ekspor Indonesia, seperti ekspor baja dan alumunium, begitu juga Cina.

"Dengan adanya tarif dari Amerika, Cina pasti akan berusaha untuk menjual baja dan alumunium ke negara alternatif, salah satunya Indonesia," katanya saat dikonfirmasi rilis.id Jakarta, Kamis (29/3/2018).

Dengan banyaknya baja yang masuk ke Indonesia, dikhawatirkan mempengaruhi daya saing baja dan alumunium Indonesia. 

"Alumunium Cina akan membanjiri pasar domestik. Alhasil produsen baja dan alumunium dalam negeri akan terkena imbasnya juga," ungkapnya.

Naylul menjelaskan, fenomena perang dagang ini, merupakan sejarah dunia dari sistem yang masing-masing dianut dari kedua negara itu. 

Sebagaimana diketahui, Amerika dengan idealisme kapitalisnya menggaungkan apa yang namanya perdagangan bebas dengan memakai kendaraan globalisasi. 

Hal ini bisa dilihat dari inisiasi Amerika dalam pembentukan beberapa kerja sama perdagangan global seperti Kemitraan Trans Pasifik (TPP).

"Namun saat ini, justru Presiden Trump memberikan proteksi kepada barang-barang dalam negeri berupa tarif impor, seperti tarif baja dan alumunium. Di sisi lain, Cina yang tengah gencarnya membuka perdagangan bebas pasti meradang, pasti akan melakukan hal serupa," terangnya.

Untuk menanggulangi itu, kata Naylul, pemerintah diharapkan segera mencari pasar baru dengan membuka kerja sama sama dengan negara lain.

Antisipasi ini, merupakan salah satu alternatif bagi perusahaan baja dan alumunium dalam negeri dengan mengekspansi pasarnya.

"Tentu pemerintah harus berusaha mencari pangsa pasar baru. Pembukaan kerja sama dengan negara-negara Afrika menjadi sebuah langkah yang bagus dari pemerintah," tutupnya.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump secara resmi menandatangani penetapan tarif impor anti Cina sekitar US$60 miliar atau setara dengan Rp827,34 triliun pada Kamis pekan lalu. 

Salah satunya, produk baja dengan menerapkan bea masuk sebesar 20 persen dan alumunium 10 persen.

Setelah AS memutuskan untuk menerapkan kebijakan tarif impor anti Cina dan berupaya mengadukan negeri tirai bambu ke World Trade Organisation (WTO), Pemerintah Cina juga membalas dengan memberlakukan respirokal atas tarif impor produk AS. 
Cina juga hendak melakukan tindakan hukum terhadap AS ke WTO.


 

Editor: Kurnia Syahdan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)