logo rilis
Impor 'Meroket', Pemerintah Didesak Kembangkan Gandum
Kontributor
Ainul Ghurri
05 April 2018, 20:34 WIB
Impor 'Meroket', Pemerintah Didesak Kembangkan Gandum
Gandum. FOTO: pixabay

RILIS.ID, Jakarta— Koordinator Koalisi Rakyat Kedaulatan Pangan, Said Abdullah, mendorong pemerintah membudidayakan gandum. Sebab, alamnya cukup subur dan beberapa daerah berada di dataran tinggi.

"Sekarang sebenarnya secara teknologi, gandum itu sangat mungkin ditanam di Indonesia. Dengan modifikasi mencari varietas yang memang cocok untuk wilayah subtropis, itu harus kita lakukan," ujarnya kepada rilis.id di Jakarta, baru-baru ini.

Baca: Impor Gandum Terlampau Banyak, Ini Akibatnya

Dia lalu mencontohkan dengan petani di Jawa Timur. Di sana, katanya, sedang mengembangkan gandum. "Tetapi, memang sekarang itu varietas gandum yang muncul, kan, dibuat tanam wilayah subtropis," akunya.

Meski begitu, Said berharap, pemerintah mengembangkan dan membudidayakan gandum dalam negeri sesuai iklim Indonesia. Dengan begitu, produksi dalam negeri meningkat.

Baca: Negara Harus Hadir atasi Impor Gandum

Terjadi lonjakan besar-besaran impor gandum sejak 2012-2017. Pada 2012, volumenya cuma 6,3 juta ton setara US$2,3 miliar. Sedangkan 2017, berdasarkan data Asosiasi Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), menjadi 11,48 juta ton setara US$2,65 miliar.

Konsumsi gandum terbesar untuk industri tepung terigu nasional sekira delapan juta ton. Sisanya, 3,8 juta, untuk industri pakan.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016, Indonesia mengimpor gandum dari Australia (3,5 juta ton), Ukraina (2,5 juta ton), lainnya (1,8 juta ton), Kanada (1,7 juta ton), dan Amerika Serikat (938,7 ribu ton). Lalu, Bulgaria (117,5 ribu ton), Moldova (63,1 ribu ton), Uruguai (12,4 ribu ton), serta Rusia (991,2 ton).

Baca: Impor Gandum Mengancam Kedaulatan Pangan Nasional

Editor: Fatah H Sidik


komentar (0)