logo rilis
Impor Gandum Tinggi, Ini Penyebabnya
Kontributor
Ainul Ghurri
23 Maret 2018, 18:32 WIB
Impor Gandum Tinggi, Ini Penyebabnya
FOTO: Pixabay

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menyebutkan, salah satu penyebab besarnya impor gandum dikarenakan maraknya iklan berbasis gandum yang sangat gencar dan masif.

"Kan masyarakat ini didik oleh iklan-iklan bahan pangan berbasis gandum setiap hari, ya semakin lama kebutuhannya makin meningkat," katanya saat dihubungi rilis.id di Jakarta, Jumat (23/3/2018).

Menurutnya, maraknya iklan itu membuat pola konsumsi masyarakat bergeser ke gandum. Sehingga, tepung terigu yang terbuat dari singkong tersisihkan. Padahal, bahan pokok pangan Indonesia masih sangat banyak.

"Jadi hampir 100 persen, konsumsi pangan pokok kita (sekarang) hanya dua yaitu beras dan gandum, lainnya hilang dengan sendirinya," tuturnya.

Andreas menceritakan, pola konsumsi gandum dimulai sejak 1969. Pada waktu itu, Indonesia sedang mengalami krisis beras, sehingga Amerika datang dan memberikan bantuan pangan yang dikirim ke Indonesia, salah satunya gandum.

"Kemudian masyarakat mulai mengkonsumsi bahan pangan berbasis gandum, meskipun proporsinya teramat kecil. Kalau selama dua tahun ini impor gandumnya tinggi banget, karena pemerintahnya juga kebangetan," terangnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Koordinator Koalisi Rakyat Kedaulatan Pangan Said Abdullah, pola konsumsi masyarakat Indonesia sudah berubah. Sebab, saat ini masyarakat kebanyakan lebih memilih yang instan dan murah seperti mie instan atau makanan saji lainnya. Bahkan, konsumsi gandum juga dibuat untuk pakan ternak.

"Di Papua, yang kita kenal konsumsi sagu dan umbi-umbian turun. Terigu, itu justru naik sampai ke Papua. Selain untuk diolah oleh industri pangan, itu juga digunakan sebagian para pelaku industri pakan, jadi ini memang dua hal yang terkombinasi," jelas Said.

Ia menguraikan, pada 1998 pabrik pengolahan tepung terigu Indonesia hanya lima unit perusahaan. Sedangkan pada 2014, sudah mencapai 29 perusahaan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. 

"Artinya, memang wajar kalau laju pertumbuhan impor gandum kita naiknya luar biasa. Nah, itu juga tidak lepas dari deregulasi kebijakan impor selama kurun waktu 90an sampai sekarang," pungkasnya.

Editor: Intan Nirmala Sari


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)