logo rilis
Impor Gandum Terlampau Banyak, Ini Akibatnya
Kontributor
Ainul Ghurri
23 Maret 2018, 19:15 WIB
Impor Gandum Terlampau Banyak, Ini Akibatnya
Pengamat Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa. FOTO: RILIS.ID/Ainul Ghurri

RILIS.ID, Jakarta— Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menilai, impor gandum yang mencapai 12,5 juta ton sangat berbahaya bagi kedaulatan pangan nasional. Sebab, kemungkinan besar konsumsi beras akan menurun seiring meningkatnya impor gandum.

"Iya dampak signifikannya, proporsi gandumnya meningkat dan total konsumsi juga meningkat. Sementara, konsumsi beras menurun, ya baik atau buruknya, saya tidak tahu," katanya saat dihubungi rilis.id di Jakarta, Jumat (23/3/2018).

Menurutnya, dengan ketergantungan pangan yang sangat tinggi pada luar negeri, tentunya, kata Andreas, sangat berisiko terhadap ketahanan pangan nasional. "Sudah barang tentu mengancam kedaulatan pangan ke depan," imbuhnya.

Hal senada juga diungkapkan Koordinator Koalisi Rakyat Kedaulatan Pangan Said Abdullah, di mana dengan tingginya impor gandum, kemungkinan besar kedaulatan pangan nasional bakal dimainkan oleh produsen luar negeri dan berpotensi menimbulkan krisis pangan.

"Kalau produsennya gagal panen, sementara kita sepenuhnya menggantungkan komoditas pangan kita supaya dapat supply dari mereka, ya kita bakal mati juga. Itu risiko besar yang harus kita tanggung," ucap Said saat dikonfirmasi rilis.id di Jakarta.

Editor: Intan Nirmala Sari


500
komentar (0)