logo rilis
Impor Gandum Mengancam Kedaulatan Pangan Nasional
Kontributor
Ainul Ghurri
22 Maret 2018, 19:47 WIB
Impor Gandum Mengancam Kedaulatan Pangan Nasional
Gandum. FOTO: pixabay.com

RILIS.ID, Jakarta— Koordinator Koalisi Rakyat Kedaulatan Pangan, Said Abdullah, mengingatkan bahaya atas impor gandum. Katanya, kedaulatan pangan nasional terancam akibat Indonesia kini menjadi importir nomor wahid untuk komoditas tersebut.

"Kalau produsennya gagal panen, sementara kita sepenuhnya menggantungkan komoditas pangan kita supaya dapat supply dari mereka, ya, kita bakal mati juga. Itu risiko besar yang harus kita tanggung," katanya saat dihubungi rilis.id di Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Said kemudian mencontohkan dengan kasus yang terjadi di Amerika Latin, Amerika, dan Eropa pada 2008. Seluruh negara tersebut, katanya, bergantung pada jagung, kedelai, dan gandum.

Ketika produsen gagal panen, negara mengalami krisis pangan. Sebab, cuma mengandalkan beberapa jenis pangan. 

Di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, pun pernah membuat program industri tepung dari singkong (modified cassava flour/mocaf) pada 2010. Sayangnya, program tak berjalan karena harga gandum sangat murah.

"Kenapa mati atau kalah? Karena impor gandum dapat keistimewaan, tarif impornya rendah atau 0 persen. Sehingga, dia jual di pasar lebih murah dibanding produksi tepung singkong dalam negeri sendiri," tandasnya.

Terjadi lonjakan besar-besaran untuk impor gandum sejak 2012 hingga 2017. Jika di 2012 volumenya cuma 6,3 juta ton senilai US$2,3 miliar, berdasarkan data Asosiasi Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), pada 2017 menjadi 11,48 juta ton setara US$2,65 miliar.

Konsumsi gandum terbesar untuk industri tepung terigu nasional sekira delapan juta ton. Sisanya sebanyak 3,8 juta, untuk industri pakan.

Impor gandum Indonesia terbesar berasal dari Australia, yakni mencapai 4,23 juta ton atau sekitar 37% dari total impor. Terbesar kedua dari Ukraina seberat 1,98 juta ton atau sekitar 17% dan ketiga dari Kanada mencapai 14,7% dari total impor.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016, Indonesia mengimpor gandum dari Australia (3,5 juta ton), Ukraina (2,5 juta ton), lainnya (1,8 juta ton), Kanada (1,7 juta ton), dan Amerika Serikat (938,7 ribu ton). Lalu, Bulgaria (117,5 ribu ton), Moldova (63,1 ribu ton), Uruguai (12,4 ribu ton), serta Rusia (991,2 ton).

Editor: Fatah H Sidik


komentar (0)