logo rilis
Impor Gandum Melejit, Akademisi Ingatkan Krisis Arab dan Afrika
Kontributor
Ainul Ghurri
06 April 2018, 07:31 WIB
Impor Gandum Melejit, Akademisi Ingatkan Krisis Arab dan Afrika
Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa. FOTO: RILIS.ID/Ainul Ghurri

RILIS.ID, Jakarta— Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, mengingatkan dampak buruk atas tingginya impor gandum. Dia lalu membandingkan dengan krisis pangan di Timur Tengah dan Afrika.

"Negara-negara di Arab dan Afrika jatuh gara-gara pangan. Mereka jatuhnya gara-gara pangan, karena ketergantungan mereka terhadap impor sangat tinggi," ujarnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Andreas menyatakan demikian, lantaran impor gandum hampir menembus 12 juta ton pada 2017. Sehingga, menjadikan Indonesia "jawara impor" di dunia.

Terjadi lonjakan besar-besaran impor gandum sejak 2012-2017. Pada 2012, volumenya cuma 6,3 juta ton setara US$2,3 miliar. Sedangkan 2017, berdasarkan data Asosiasi Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), menjadi 11,48 juta ton setara US$2,65 miliar.

Konsumsi gandum terbesar untuk industri tepung terigu nasional sekira delapan juta ton. Sisanya, 3,8 juta, untuk industri pakan.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016, Indonesia mengimpor gandum dari Australia (3,5 juta ton), Ukraina (2,5 juta ton), lainnya (1,8 juta ton), Kanada (1,7 juta ton), dan Amerika Serikat (938,7 ribu ton). Lalu, Bulgaria (117,5 ribu ton), Moldova (63,1 ribu ton), Uruguai (12,4 ribu ton), serta Rusia (991,2 ton).

Baca: Impor Gandum Tinggi, Ini Penyebabnya

Apalagi, tambahnya, 25 persen porsi pangan pokok nasional sekarang berbasis gandum. "Saya khawatir dengan angka 25 persen. Karena apa? Ini sudah ambang kritis," tegasnya. Padahal, porsi pangan pokok berbasis gandum cuma 21 persen pada 2015 silam.

"Sehingga, ketika 2011 food price index meningkat sampai 240, forex collapse semua negara di sana dan kita tahu namanya Arab spring. Dan itu, merupakan krisis global kedua," tuntas Andreas.

Baca: Impor Gandum Mengancam Kedaulatan Pangan Nasional

Editor: Fatah H Sidik


500
komentar (0)