logo rilis
Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Industri 4.0
Kontributor

21 Maret 2018, 01:07 WIB
Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Industri 4.0

Dentuman ilmu pengetahuan terapan pada tiap ranah membawa konsekuensi logis tertentu berikut implikasi jangka panjangnya. Pendidikan dalam konteks formal (sekolah) turut terseret narasi modernitas yang membopong beban otomasi dan digitalisasi. Era disrupsi, demikian khalayak abad ke-21 mengatakan, membawa serangan eksplisit di jagat pendidikan. Terutama seputar orientasi dan kontestasi pembelajaran.

Pihak yang mengurusi regulasi pendidikan pusat kemudian merespons dengan tegas dan lekas agar pendidikan formal menyiapkan diri sebelum dikondisikan zaman. Sasaran pragmatik seperti kecakapan kerja di lapangan tiba-tiba dinomorsatukan sebagai tujuan utama sekolah maupun perguruan tinggi.

Makna pendidikan lambat-laun mengikis sebatas kesiapan lapangan. Filsafat pendidikan juga berubah menjadi kerja, kerja, dan kerja. Wilayah pendidikan dianggap seksi untuk membentuk manusia. Maka tak mengherankan bila manusia modern, anak zaman Revolusi Industri 4.0, dicetak sedemikian rupa guna mengisi pos-pos industri. Sekolah berperan signifikan untuk menyiapkan insan-insan pengekor disrupsi itu.

Kurikulum nasional dibonsai agar kualitas manusianya memenuhi harapan dunia kerja. Pendeknya, sekolah diposisikan sama dengan laboratorium menuju kerja. Dogma ini dipatenkan terus-menerus melalui produksi wacana, "Bangsa kita tertinggal dan harus mengejar ketertinggalannya."

Belum terserap ke dunia kerja, anak didik cetakan sekolahan itu sudah dibentak misi utopis: kelak manusia segera tergantikan dengan kehadiran robot. Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dimitoskan total guna menggeser tenaga manusia. Mitos ini mewujud ke dalam sistem dan instrumen praktis yang menginduk pada teknologi mutakhir. Bentuknya bisa beraneka rupa dan ditengarai lebih fantastis ketimbang manusia yang memiliki kecerdasan natural.

Perkuliahan atau pembelajaran jarak jauh salah satunya. Sekolah hingga perguruan tinggi turut merayakan selebrasi atas nama efisiensi transfer pengetahuan. Melegitimasikan metode ini ternyata juga dianggap pro terhadap kemajuan. Sekalipun ia baru diraih oleh institusi pendidikan yang unggul secara finansial.

Amnesia Filsafat Manusia

Tren disrupsi membawa konsekuensi logis terhadap perubahan pola pembelajaran. Titik balik ini acap membayangi setiap transformasi yang diakibatkan oleh revolusi industri. Bila ditengok tiga gelombang revolusi teknologi sebelumnya, ia membawa tekanan sekaligus destruksi masing-masing.

Sebelum ilmuan menemukan komputer, semisalnya, manusia masih berdaulat atas kemampuan menulis secara manual. Kesalahan ketik cukup disadari dengan baik. Kecenderungan salin-tempel hampir absen karena fitur demikian tak ditemukan pada mesin ketik tradisional. Namun, aktivitas semacam itu kini berubah drastis. Akurasi dan konsentrasi tulis-menulis tak setajam generasi lampau. Mereka dilenakan atau dimanjakan oleh pelbagai fitur otomatis yang dihasilkan teknologi.

Teknologi meniscayakan sisi positif dan negatif yang saling beririsan. Ia juga bisa menjadi bumerang bagi kreativitas manusia tatkala teknologi itu diposisikan sebagai alat bantu primer. Determinasi teknologi, dengan kata lain, mampu meremukkan daya kreatif yang bersumber pada kepercayaan natural manusia. Albert Camus menyebut kondisi ini sebagai krisis akut atas ketergantungan peranti artifisial.

Persoalan fundamental dunia pendidikan di setiap jenjang manakala menyikapi gelombang teknologi antara lain disorientasi epistemologis: bagaimana mengawal orientasi aksiologis pendidikan Indonesia tanpa durhaka terhadap nilai filsafatinya. Pandangan ini dikemukakan agar ia tetap mengikuti disrupsi teknologi secara cair tapi sekaligus masih mengakar pada konsep Ki Hadjar Dewantara yang mendudukan manusia sebagai subyek utama.

Membangun manusia tak boleh luput dari tujuan pendidikan nasional. Pengabaian terhadapnya justru membawa senjakala peradaban di kemudian hari. Segi humanisme yang dimaksudkan meliputi bagaimana subyek menemukan kedaulatan diri. Ki Hadjar memberi sinyal agar pendidikan berbasis kemanusiaan tak salah alamat, yakni memfokuskan pada prinsip penemuan bakat.

Jamak sekolah hari ini yang melupakan poin bakat sebagai titik krusial pembelajaran. Mereka cenderung mengikuti arus industri yang banyak mengeksplorasi keterampilan kerja. Hal ini bagus di satu sisi, namun di sisi lain perlu diimbangi dengan mengedepankan preferensi internal subyek. Bila tak demikian, peserta didik sebagai pihak pelaksana akan menjadi korban  dari egoisme sekolah.

Korban Struktural

Problem empiris di lapangan, terutama sekolah, sukar bergerak sesuai idealisme sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Ia terikat ikatan struktural vertikal yang membuatnya patuh sebagai objek kurikulum nasional. Pretensi ini bukan menganggap buruk kurikulum yang dikonstruksi pemerintah pusat, melainkan diperlukan autokritik terhadap kurikulum itu sendiri yang jelas mensekunderkan bakat peserta didik.

Sekolah hari ini, bahkan sejak empat dekade lampau, tak memanifestasikan secara serius filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Menteri pendidikan pertama di Indonesia itu hanya dianggap sebagai simbol mati yang sering dipampangkan secara visual-verbal: patung, jargon, dan papan sekolah. Lebih-lebih Tut Wuri Handayani sekadar disakralkan di papan kertas dan diujarkan secara hiperbolis dalam kesempatan pidato.

Bejibun pelajaran yang dipaketkan sekolah kepada siswa mengaburkan sasaran utama pendidikan dalam rangka eksplorasi bakat. Potret ini bisa ditilik dari komposisi pelajaran dari SD hingga SMA. Alih-alih memberi kebebasan meneroka bakat peserta didik, sekolah justru arogan dengan sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan dan wajib tempuh. Tak ada celah membina diri mencari apa dan bagaimana bakat itu dimiliki. Sebuah lanskap pendidikan artifisial yang terus mengakar.

Rony K. Pratama | Peneliti Pendidikan Literasi Yogyakarta00000


#revolusiindustri4.0 pendidikan sekolah disrupsi
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)