logo rilis

Ilusi Informasi Zaman Digital, Telan atau Muntahkan?
Kontributor
RILIS.ID
02 Januari 2018, 10:22 WIB
Ilusi Informasi Zaman Digital, Telan atau Muntahkan?
ILUSTRASI: Hafiz

Oleh Endy Kurniawan
Konsultan Media, Praktisi Komunikasi Digital dan Penulis Buku

DI tengah era post truth yang terjadi saat ini, diperlukan kewarasan tingkat dewa untuk menelan atau memuntahkan isi berita. Hoaks atau kejujuran? Designed hoax atau stupid hoax

Baca Juga

Jangan salah, saat ini bullshit adalah bagian dari strategi komunikasi. Itu yang ditulis Evan Davis dalam bukunya The Post Truth - Why We Have Reached Peak Bullshit and What We Can Do About it (Little, Brown Book Group Limited, Mei 2017).

Kedewasaan pengguna media berbasis internet akan ditentukan pada kemampuannya dalam memfilter informasi. Hoaks dalam masa ini tidak hanya dimaknai sebagai reaksi publik atas situasi, tapi harus dipahami sebagai upaya terencana dan terkoordinasi. 

Sebuah lie incorporated menurut Ari Rabin disebutkan sebagai rekayasa dan formalisasi kebohongan oleh penguasa, pengendali politik maupun konglomerasi modal. Itulah yang bisa menjelaskan ilusi tentang global fear yang di dalamnya termasuk ancaman imigran yang dibangun Donald Trump kepada Amerika, sejak pencalonan dirinya sebagai Presiden, hingga kini.

Itulah yang juga dibangun tangan dan kepentingan tersembunyi di negeri ini, tentang ancaman disintegrasi, gerakan anti-Pancasila dan ilusi berlebihan soal politik idiologis. Imajinasi itu diciptakan terlebih dahulu, lalu rasionalisasi peristiwanya diciptakan belakangan. Perppu Ormas dulu, lalu sebar video soal ‘tegakkan khilafah’ belakangan. Perlakuan terhadap Ustad Somad belakangan dijadikan alasan-alasan pembenaran.

Jadi ini sebuah dunia baru yang yang perlu kita pahami. Sebuah gejala yang secara bersama dimunculkan, dan bisa kita baca sebagai sebuah narasi global, antara post-truth sebagai strategi politik lintas negara dengan anarki, radikalisme dan populisme sebagai bentuk perlawanannya. Radikalisasi yang terjadi karena connected movement, sebuah era baru yang difasilitasi internet dan dunia digital. 

Lalu bagaimana kita menghadapi sajian visual di depan mata, yang sumir antara fakta atau fatamorgana?

Mendekat ke tahun-tahun politik, menjadi pertanyaan besar para tokoh politik nasional bagaimana membangun citra yang baik untuk mendapatkan dukungan, sementara ilusi post-truth makin menjadi-jadi? Yang pusing bukan hanya publik sebagai konsumen, tapi juga political brand baik parpol maupun tokohnya. Dalam banjir informasi ini, bagaimana cara merebut hati?

Apakah digital campaign, sebagai alternatif kampanye politik nasional, telah cukup matang untuk menjadi backbone kampanye yang masif dengan ukuran-ukuran yang makin kuantitatif? 

Figur politik pemula biasanya mengandalkan pembesaran pipa distribusi, berupa kanal media-media utama dan kanal media alternatif yang menghampiri publik atau audiens, untuk mendongkrak popularitasnya dengan cara menyampaikan berton pesan-pesan. 

Dengan modal besar, hal ini bisa diatasi. Tapi kita juga sampai pada fakta bahwa media alternatif, seperti halnya media sosial, menyediakan ruang eksplorasi dengan modal minim untuk membuat viral (mewabah), konten yang menyebar cepat bak virus. 

Viral bahkan jadi sebuah target besar yang dinyatakan di depan. Viral-Viral-Viral. Pada bagian berikutnya kita akan bahas apakah viral adalah sesuatu yang secara sains dan metodologi bisa dijelaskan atau sebuah kebetulan belaka. Kita akan gunakan rumus V = O + P + D untuk membedah bagaimana pesan berupa konten--dalam studi kasus seorang tokoh politik nasional--bisa menjalar menjadi perbincangan di jagat media.


#opini
#endy kurniawan
#post truth
#viral
#hoaks
#politik
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)