logo rilis
IHSG Anjlok, OJK: Biasalah
Kontributor
Intan Nirmala Sari
23 Maret 2018, 16:28 WIB
IHSG Anjlok, OJK: Biasalah
FOTO: Humas Kemenko Perekonomian

RILIS.ID, Jakarta— Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Jumat pagi (23/3/2018) dan penutupan sesi I siangnya lebih karena dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed), bukan karena perang dagang global.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso meyakini, melemahnya IHSG lebih karena aksi ambil untung investor yang bersifat sementara. Dana investor, kata dia, akan kembali masuk ke pasar modal didorong pemulihan perekonomian domestik yang terus berjalan.

"Biasalah, mungkin kalau di portofolio itu pasti investor mencari return yang menguntungkan. Tapi portofolio itu kan sementara, kita sudah pengalaman dan sudah beberapa kali. Saat ada kenaikan suku bunga The Fed, pasti ada respon begitu," ujarnya di Jakarta, Jumat (23/3).

Sebagai informasi, IHSG Jumat pagi ini dibuka melemah 115,96 poin atau 1,85 persen ke posisi 6.138,10. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak turun 29,06 poin (2,83 persen) menjadi 997,58. Di penutupan sesi I siang ini, Jumat (23/3), indeks mencatatkan penurunan cukup tajam sebesar 1,73 persen menjadi 6.146,19.

"Ini lebih sementara, karena kenaikan suku bunga AS, Kamis (22/3) kemarin. Sentimen positif dari eksternal dan internal akan membuat rebound," ujar Wimboh.

Sebagaimana diketahui  Rabu (21/3) waktu AS, The Fed mengumumkan kenaikkan suku bunga acuannya untuk pertama kali di tahun ini, sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1,5-1,75 persen. Konsensus pasar memperkirakan, masih terjadi dua kali lagi kenaikan suku bunga AS di 2018.

Berbeda dengan pimpinan OJK, menurut kalangan analis, pelemahan IHSG hari ini lebih karena sentimen perang dagang yang diinisiasi kebijakan Presiden AS Donald Trump, yang akan mengenakan tarif impor terhadap Cina sekitar US$60 miliar.

"Investor merespon negatif terhadap kebijakan itu karena dapat memicu perang dagang global, sehingga aksi jual di pasar saham global, termasuk di dalam negeri berlanjut," kata Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada.

Hal senada juga dikatakan Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere. Menurutnya, investor masih menimbang implikasi kebijakan The Fed dan perang dagang global. Dari dalam negeri, lanjut dia, meski terdapat sentimen positif dari laporan laba emiten dan pembagian dividen, namun belum cukup kuat menopang pergerakan IHSG.

Selain Indonesia, Bursa regional, di antaranya indeks bursa Nikkei juga turun 764,16 poin (3,54 persen) ke 20.827,83, indeks Hang Seng melemah 892,05 poin (2,87 persen) ke 30.179,00 dan Straits Times melemah 59,94 poin (1,72 persen) ke posisi 3.431,43.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)