logo rilis
Idris Laena: Kita Harus Syukuri Hidup di Indonesia
Kontributor
Nailin In Saroh
19 Agustus 2019, 16:16 WIB
Idris Laena: Kita Harus Syukuri Hidup di Indonesia

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Badan Anggaran MPR RI, Ir. H. Idris Laena MH, menyampaikan kekagumannya terhadap kekayaan Indonesia. Diungkapkannya, Indonesia adalah Negera besar, terdiri dari 17.000 pulau, 1370 suku, dan 800 bahasa. Kekayaan Indonesia, itu menurut Idris Laena tidak hanya berhasil tetapi juga menyebabkan perpecahan. 

Uni Soviet, kata Idris, negara adidaya itu kini telah hilang dari peta dunia. Negara itu terpecah negara kecil, yang memerdekakan dirinya sendiri. 

Demikian pula Yugoslavia, negara yang dulu makmur dengan angkatan perangnya yang sangat kuat, kini menjadi negara-negara sendiri, sesuai kelompok-kelompok yang hidup di sana. Sementara Libanon, negeri nan Indah saat ini dilanda kecamuk perang saudara yang tak berkesudahan. Di Libanon, pertempuran bisa terjadi kapan saja, meski sebelumnya dalam kondisi damai. 

“Kita harus syukuri hidup di Indonesia. Kita memang tidak terlalu maju, tetapi kita hidup dengan aman dan damai. Kita bisa melakukan kegiatan, tanpa harus takut dan mencekam ”, kata Idris Leina dihadapan para siswa, guru dan alumni SMAN 15 Jakarta, 

Idris harus dibatalkan. Caranya, semua kelompok dan suku-suku yang ada di Indonesia, saling menghormati satu dengan yang lainnya. Tidak boleh ada satu kelompok pun yang bisa menang sendiri. Semua harus berkorban demi kepentingan bersama. 

Pernyataan itu disampaikan Ketua Badan Anggaran MPR yang juga Sekretaris Fraksi Partai Golkar MPR RI Ir. H. Idris Laena MH, saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, dihadapan keluarga besar SMAN 15 Jakarta Utara. Acara tersebut merupakan kolaborasi antara MPR dengan Bina Prestasi Nusantara dan berlangsung dihalaman SMAN Libel pada Senin (19/8/2019). Ikut hadir pada acara tersebut Kepla Sekolah SMAN 15 Nurita Siregar S. Pd dan para alumni SMAN 15. 

Salah satu contoh perubahan sikap dan pengorbanan yang dilakukan oleh generasi muda, menurut Idris adalah saat umat Islam Indonesia terkait dengan tujuh kata dalam Piagam Jakarta untuk membuat Pancasila seperti yang dikenal sekarang. Saat itu, para ulama lebih mengutamakan persatuan dan kesatuan Indonesia, dibandingkan ego keagamaan. Dan dengan sukarela dan keikhlasan yang lebih tinggi mereka memilih negara Kesatuan Republik Indonesia dibandingkan negara Islam. 

“Sikap-sikap seperti ini harus senantiasa dikedepankan. Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, di atas kepentingan kelompok dan golongan. Inilah yang akan membuat NKRI terus bersatu. Namun jika masing-masing kelompok, mengutamakan kepentingan golongannya sendiri, sangat mungkin NKRI ini akan terpecah belah ”, kata Idris Leina lagi.

Negara yang kuat menurut Idris bukan ditentukan oleh militernya. Sejarah membuktikan Uni Soviet yang ditakuti Amerika kini lenyap dari peta dunia. Namun, kuat lemahnya negara ditentukan oleh rasa nasionalisme seluruh warganya. 

"Jika nasionalisme masyarakat tinggi, segala rintangan yang menghambat, mereka akan bersatu padu melawan rintangan yang menghadang. Tanpa harus menunggu militernya turun tangan," katanya.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID