logo rilis
IDI Serahkan Kelayakan Metode 'Cuci Otak' Terawan ke Kemenkes
Kontributor
Kurniati
09 April 2018, 14:05 WIB
IDI Serahkan Kelayakan Metode 'Cuci Otak' Terawan ke Kemenkes
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Ilham Oetama Marsis. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Ikatan Dokter Indonesia menyerahkan kelayakan metode terapi cuci otak (brain wash) untuk pengobatan penyakit stroke yang dilakukan oleh dr Terawan Agus Putranto Sp.Rad, pada tim "Health Technology Assesement" (HTA) Kementerian Kesehatan untuk menilai standar pelayanannya.

Kelayakan yang dimaksud, termasuk izin untuk tetap melakukan praktik menggunakan metode tersebut.

"Kita ketahui bahwa dalam pengaturan standar pelayanan itu merupakan kewenangan dari Kemenkes. Kalau Kementerian Kesehatan belum menetapkan standar pelayanan, yang tentunya secara praktik tidak boleh dilakukan," kata Ketua Umum IDI, Ilham Oetama Marsis dalam keterangan pers yang diterima rilis.id di Jakarta, Senin (9/4/2018).

HTA Kemenkes merupakan suatu badan yang saat ini keberadaannya permanen untuk menjawab perkembangan teknologi pengobatan.

Baca Juga: Kisruh Dokter Terawan-IDI, Menkes Siap Mediasi

Menurutnya, IDI tidak bisa memberikan penilaian apakah metode cuci otak melalui "Digital Substraction Angiography" (DSA) dengan heparin yang dilakukan oleh dokter Terawan sebagai metode pengobatan, bisa dilakukan kepada masyarakat.

Marsis hanya menjelaskan, dokter Terawan memang telah membuktikan, melalui penelitian akademis terkait heparin dapat membuka suatu sumbatan-sumbatan yang bersifat kronik pada penyakit stroke. 

Hal tersebut ditegaskan oleh promotor disertasi dokter Terawan di Universitas Hassanudin Makassar, yakni Prof dr Irawan Yusuf PhD.

Marsis juga mengingatkan, masih ada tahap selanjutnya yang perlu dilakukan sebelum hasil riset tersebut bisa diterapkan pada masyarakat luas.

"Tapi jangan lupa pada tahap selanjutnya yang harus dipertanyakan, apakah dengan temuan ini akan bisa diterapkan kepada masyarakat secara luas. Itu yang harus melalui yang namanya uji klinik," jelas Marsis.

Dia menjelaskan, penelitian yang dilakukan oleh dokter Terawan dalam disertasinya baru tahap pertama dan masih memerlukan tahapan selanjutnya.

PB IDI menyatakan menunda melaksanakan putusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran yang merekomendasikan memberikan sanksi pemecatan dan pencabutan rekomendasi izin praktik dr Terawan karena keadaan tertentu.

Baca Juga: IDI Tunda Pecat Dokter Terawan

Dengan penundaan tersebut, Marsis menegaskan bahwa dr Terawan masih terdaftar sebagai anggota IDI dan bisa melakukan praktik sebagaiamana biasanya.


500
komentar (0)