Dadang Rhs

Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID

Identitas Bertumbuh, Bukan tentang Pahlawan

Kamis, 9/11/2017 | 13:53

"BERBAHAGIALAH dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri."

Ini kalimat diucapkan Nyai Ontosoroh kepada Minke, saat keduanya kali pertama bertemu. Kedua anak manusia ini adalah dua sosok Bumiputera di era kolonial. Sanikem, nama Nyai Ontosoroh sewaktu kecil, adalah sosok perempuan pribumi yang tak makan sekolah. Ia putri seorang juru tulis sebuah pabrik gula. Sedang sosok Minke adalah pelakon utama pada roman sejarah, yang ditulis sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam tetraloginya. Minke adalah sosok pribumi terdidik.

Sanikem, Nyai Ontosoroh, seorang budak belian yang punya harga diri. Seorang nyai yang (menjadi) merdeka. Ia mendendam pada struktur yang zalim. Ia melawan struktur yang timpang. Dalam nestapa kolonial, ia menjadi saksi bahwa tiap-tiap orang patut mempertahankan haknya. Sanikem mendidik dirinya, ia berkelahi untuk harga diri: "Melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."

Saat itu, di bawah kekuasaan kolonial, identitas warga didasari atas perbedaan warna kulit. Eropa, timur asing, dan pribumi. Seorang Nyai adalah identitas yang disematkan bagi perempuan pribumi yang dijadikan gundik oleh golongan Eropa.

Segregasi dan struktur yang tak adil ini telah membelah keluarga Sanikem. Ia terberai dari keluarganya. Ia memilih untuk tak lagi terikat kekerabatan dengan Sastrotomo, sang Ayah, yang demi harta dan takhta telah menjual Sanikem pada tuan administratur. Sanikem juga terluka dengan sikap ibunya yang tak berdaya dan mengikuti syahwat Sastrotomo yang serakah itu.

Setelah menjadi Nyai Ontosoroh, segregasi dan identitas terus merundung Sanikem. Anak dari hubungannya dengan Tuan Besar Administratur terbelah sikap. Robert Mellema, anak lelaki Nyai Ontosoroh, tak sudi ada identitas pribumi dalam dirinya. Sedang Annelies Melemma, anak gadis Nyai Ontosoroh yang kelak diperistri Minke, bersikukuh bahwa dirinya adalah pribumi seperti ibunya.

"Pribumi juga baik," ujar Annelies pada Minke. "Ibuku juga Pribumi—Pribumi Jawa."

Nyai Ontosoroh, perempuan yang keras hati. Ia tak ingin nestapa kaum pribumi seperti dirinya terulang pada anaknya. Ia mendendam.

Kita dan kisah Nyai Ontosoroh sudah berjarak abad. Tinta peradaban akan menorehkan setiap guratan yang kelak menjadi jejak yang tertulis dalam catatan setiap kita. Dengan pelbagai kisah, sebagaimana Nyai Ontosoroh, tiap-tiap orang sedang menulis roman sejarahnya. Dan, ia tak hanya berisi kejahatan versus kebaikan. Juga, bukan selalu tentang pahlawan melawan para bandit.

Sejarah juga identitas terus bertumbuh. Ia tak sekali jadi. Sebagaimana Sanikem yang menjadi Nyai. Dari budak belian yang menjadi Perempuan keras hati. Nyonya atas 'Boerderij Buitenzorg'.

Sejarah tentu bukan melulu Ihwal sesuatu yang mulia atau dimulia-muliakan. Ada hipokrisi. Kepalsuan. Tipu daya. Prasangka. Juga dendam dan amarah.

Di satu sisi, kemanusiaan dan peradaban kita kian bertumbuh. Di lain sudut, keonaran akan terus ada. Kepalsuan, tipu daya, amarah, dendam dan prasangka akan menyelusup dalam tiap-tiap hasrat yang posesif. Kemasannya bisa berganti. Tanpa pikiran yang adil, ketamakan dan syahwat kepemilikan akan melahirkan perbudakan abadi. Keadilan hanya akan lahir dari persilangan pikiran. Bukan, pemaksaan dan dominasi. Apalagi tipu daya.

"Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan."

Nasihat ini diterima Minke dari Jean Marais. Lelaki ini adalah kampanyon Minke dalam usaha dan sekaligus merupakan lawan berpikir. Jean Marais berkebangsaan Perancis, ia kehilangan kaki saat menjadi serdadu kompeni ketika Belanda kepayahan melawan bangsa Aceh. Ia jatuh cinta dan memiliki buah hati dari bangsa yang tak hendak takluk itu. Bangsa yang “melawan, dengan segala kemampuan dan ketidakmampuan”. Bangsa perbuatan.

Kita hari ini, Indonesia, adalah buah atas perlawanan. Lahir dari rahim sejarah yang menolak penindasan dan ketidakadilan. Sebuah bangsa yang memilih untuk bahagia, bangsa yang merdeka: bangsa yang adil dan berpikir. Semoga.