logo rilis
Idelogi Apa Dibalik Puisi Sukmawati?
Kontributor

05 April 2018, 15:42 WIB
Idelogi Apa Dibalik Puisi Sukmawati?

Teks sastra adalah representasi ideologi pengarang (Mahayana, 2012). Apabila kita cermat menganalisis suatu wacana di dalam sebuah karya tulis, visual maupun verbal, tentu kita akan mampu mengidentifikasi ideologi yang disisipkan di dalamnya. Setianto (2015) menyebutnya sebagai ideologi yang bersemayam di dalam sebuah teks (Discourse and Ideological Representation In Political Advertisements In The Beginning of Reform Movements, 2015).

Sebagai hakikat otonom, setiap karya adalah sistem ideologi. Artinya, novel, cerpen, drama, bahkan satu bait puisi adalah ideologi (Ratna, 2010).

Sementara itu, Antonio Gramsci memandang ideologi lebih dari sekadar sistem ide, tetapi ideologi secara historis memiliki keabsahan yang bersifat psikologis. Artinya, ideologi membentuk karakter tertentu dan mempengaruhi seseorang untuk sadar posisi (kawan dan lawan), sadar pergerakan, dan sadar perjuangan.

Ideologi tidak sekadar gagasan, melainkan gagasan yang diikuti dan dianut sekelompok besar manusia atau bangsa. Karena itu, ideologi bersifat menggerakkan manusia untuk merealisasikan gagasan tersebut. Meskipun gagasan seseorang, betapapun ilmiah, rasional atau luhurnya, belum bisa disebut ideologi apabila belum dianut oleh banyak orang dan diperjuangkan serta diwujudkan dengan aksi-aksi yang berkesinambungan (Sarbini, 2005).

Karya sastra puisi sangat tidak mungkin apabila tidak mengandung unsur misi ideologi yang dianut dan diperjuangkan oleh sang penciptanya, menggiring dan menggerakan manusia untuk mewujudkannya, serta memusuhi dan melawan siapa saja yang menolak dan menentang ideologi tersebut.

Islam tentu bukan agama yang hanya mengatur soal privasi mahluk dengan tuhannya, tetapi juga merupakan sebuah ideologi yang komprehensif, menjangkau semua sendi kehidupan manusia dengan metodologi dan operasionalisasi yang jelas, yaitu berupa syariat Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW yang diwujudkan melalui kedaulatan Madinah Al-Munawaroh.

Konsekuensi Islam sebagai ideologi tentu akan mengundang pertentangan, perlawanan, dan penolakan dari penganut ideologi lain yang menganggap kehadiran Islam akan menandingi dan melenyapkan eksistensi ideologinya. Upaya perlawanan ini salah satunya melalui pendekatan sastra.

Penolakan terhadap Islam melalui pendekatan sastra (teks) ini pun pernah terjadi pada masa dakwah Rasulullah. Orang-orang pada saat itu menolak dengan argumentasi bahwa ayat-ayat yang terdapat dalam Alquran sebagai karangan Muhammad dan dongeng masa lalu (purbakala), serta mereka menganggap mampu membuat karya sastra yang dapat melebihi dan menandingi Alquran.

Di Indonesia, perlawanan terhadap Islam melalui pendekatan sastra terjadi secara periodik, mulai dari masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda berupa artikel karya Martodharsono dan Djokodikoro berjudul Pertjakapan Antara Martho dan Djojo, yang isinya menghina nabi sebagai pemabuk, kitab kejawen Darmagandul, sampai dengan kasus yang terkini, yaitu kasus puisi yang berjudul Ibu Indonesia yang dibuat dan dibacakan oleh seorang 'budayawati’, Sukmawati Soekarnoputri

Menyoal sastra puisi yang dibacakan oleh Sukmawati dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018 yang berjudul itu, tentu kita juga tidak akan lepas dari soal analisis kritis tentang ideologi apa di balik sosok putri Sang Proklamator tersebut.

Untuk menjawab hal tersebut, tentu butuh analisis yang sangat mendalam, misalnya metode analisis wacana kritis yang digunakan oleh Van Djik. Namun, secara sederhana dan tanpa menggunakan metodologi saintis yang rumit, tentu kita bisa langsung memahami bahwa puisi tersebut bersinggungan secara nyata dengan Islam, yaitu soal syariat Islam, cadar, dan azan.

Jadi, jelas bahwa yang sedang dilawan, dimusuhi, dan ditolak oleh ‘sang pencipta’ puisi tersebut adalah Islam. Jika puisi tersebut secara nyata berlawanan dengan Islam, maka suatu hal yang mustahil jika nilai ideologis yang terdapat dalam teks puisi dan pencipta puisi tersebut adalah Islam.

Andaikata kita menyematkan Islam pada sosok Sukmawati, tentu kita tidak akan melihat Ibu Sukma yang tak berkerudung dan berkonde, tetapi kita akan melihat ia yang menutup aurat dan menghormati syariat Islam lainnya. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Lantas, ideologi apa yang sebenarnya dianut dan diperjuangkan oleh Sukmawati?

Logika yang digunakan oleh Sukmawati dalam teks puisi “Ibu Indonesia” hampir mirip metodenya dengan yang pernah digunakan dalam kitab kejawen Darmagandhul, yang dikenal dengan istilah metode othak-athik gathuk. Bedanya, metode othak-athik gathuk dalam kitab Darmagandhul menggunakan pendekatan logika anonim.

Seperti mengartikan Surat Al-Baqoroh ayat 2 (Dallikal, yen turu nyengkal wadine nyengkal, tegesipun kitabulla, natap mlebu ala wadi, tegese rahabapi, rahaba kang gawe sampur, hudan lil muttakina, yen wis wuda jalu estri, den mutena jroning ala-jroning ala, Darmagandhul), yang artinya, (Dzalikal: jika tidur kemaluannya nyengkal (bangkit), kitabu la, kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa, raiba fihi: perempuan yang pakai kain, hudan: telanjang (wuda), lil muttaqien: sesudah telanjang, kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita (H.M. Rasyidi, 1967).

Sedangkan, puisi (Ibu Indonesia) Sukmawati menggunakan pendekatan logika padanan, yaitu menyepadankan aktivitas syariat Islam dengan istilah budaya, seperti sari kondedengan cadar, suara kidung dengan alunan azan, dan gemulai tari dengan ibadah dan pujaan.

Tidak ada istilah kebetulan. Kemiripan metode sastra dengan pendekatan logika sederhana antara karya sastra kitab Darmagandhul dengan puisi Ibu Indonesia tentu akan mengerucut pada hipotesis bahwa Sukmawati mungkin saja memiliki hubungan (corelation) dengan ideologi Kejawen, apalagi ia menyebut dirinya budayawati.

Berbicara tentang Sukmawati, maka perbincangannya tidak akan lepas dari sosok Megawati yang juga pernah ‘meluncurkan’ pidato kontroversi yang menyinggung soal Islam. Dan yang paling penting adalah hubungannya dengan Bung Karno, Sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia.

Peribahasa mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jika peribahasa ini bernilai kebenaran, mungkinkah ideologi yang dianut oleh Sukmawati sama dengan yang dianut oleh Bung Karno yang pernah berdebat dengan H. Agus Salim soal Allah SWT bahwa Allah adalah Tuhan yang tidak sesuai dengan pendapatnya?

Salah satu isi naskah pidato Bung Karno pada sidang umum PBB ke-15 tahun 1960  yang berjudul To Build the World a New mungkin akan memberikan gambaran/tafsiran mengenai ideologi yang bersemayam dalam pemikiran Bung Karno.

“…memang tidak mengherankan bahwa faham-faham mengenai kekuatan yang besar dan kejantanan itu telah timbul dalam bangsa kami selama dua ribu (2.000) tahun peradaban kami dan selama berabad-abad kejayaan bangsa, sebelum imperialisme menenggelamkan kami…”

Jika kita hitung antara tahun dibacakannya pidato tersebut, yaitu tahun 1960 M (Masehi) dengan 2000 tahun yang terdapat pada naskah, maka dimungkinkan bahwa yang mengilhami pemikiran Bung Karno adalah ideologi peradaban Indonesia yang hidup tahun 40 SM.

6 tahun sebelumnya (46 SM), terjadi peristiwa bersejarah di mana Julius Caesar didaulat menjadi diktator seumur hidup. Dan, 3 tahun setelah Bung Karno membacakan pidato tersebut (tepatnya tanggal 15 Mei 1963), beliau pun didaulat menjadi Presiden seumur hidup pada sidang Umum MPRS II di Bandung melalui Ketetapan MPRS Nomor III/MPRS/1963. 

Sementara itu, apabila kita bandingkan (dialektika historis) dengan sejarah diangkatnya Muhammad sebagai Rasul, yaitu pada tahun 611 Masehi, maka sangat tidak mungkin bahwa ideologi yang mengilhami Bung Karno adalah Islam.

Dari sederet peristiwa yang menimpa Islam akhir-akhir ini, tentu kita harus lebih hati-hati untuk tidak tertipu oleh pembenci Islam yang berkedok dan berlindung di balik identitas Islam. Seperti apa yang pernah diamanatkan oleh Umar Bin Khattab RA, jangan tertipu oleh orang yang membacakan Alquran, tapi lihatlah kepada mereka yang bertindak sesuai dengan Alquran itu.


##sukmawati
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID