logo rilis
Idealisme dalam Politik
kontributor kontributor
Mohammad Nasih
20 Juni 2019, 13:06 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
Idealisme dalam Politik
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supartman

Makna paling dasar politik adalah kota (baca: negara). Memang, dalam sejarah paling awal, negara yang ada pada saat itu tidaklah terlalu besar. Wilayahnya tidak begitu luas, dan warganya tidak begitu banyak, sehingga lazim disebut negara-kota (city state). Karena itu, politik sesungguhnya adalah segala usaha untuk menata negara agar menjadi lebih baik. Di antara indikator dasarnya adalah warganya hidup dalam keadilan dan kemakmuran.

Orang yang bergelut dengan usaha besar itu, disebut sebagai politikus alias negarawan. Ketika urusan pengurusan negara kemudian menyebabkan kasta tersendiri, muncul kata bangsawan. Konotasinya sesungguhnya sangat positif. Politik bukan sekedar sebagaimana didefinisikan oleh banyak pakar politik Barat, yakni siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana? Politik yang demikian itu akan melahirkan keadaan yang di dalamnya terjadi homo homini lupus, srigala yang memangsa srigala lainnya. Justru yang lebih substansial adalah tujuan baik dan perbaikan apa yang akan diwujudkan sehingga kekuasaan dipandang perlu untuk direbut dan kemudian dijadikan sebagai alat. Jika pun terjadi pembagian kekuasaan, sesungguhnya itu hanyalah pembagian tanggung jawab yang besar, sehingga bisa dilakukan kerja secara bersama dan juga sinergi yang bisa membuat capaian kerja menjadi semakin besar.

Kekuasaan yang dijadikan sebagai tujuan, bukan sekedar alat, pasti akan menyebabkan kerusakan. Padahal efek politik sangatlah besar, bahkan menyeluruh. Kebaikan dan perbaikan yang dilakukan dengan jalan politik, akan terjadi secara menyeluruh. Sebaliknya, keburukan yang dilakukan dengan jalan politik, akan terjadi secara menyeluruh pula.  Sebab, jalan politik adalah jalan pembangunan kebijakan publik yang berkarakter inklusif. Kebijakan politik berlaku atas seluruh warga negara, bahkan tidak peduli mereka tahu atau tidak tahu. Sebab, jika sebuah kebijakan politik diberlakukan, seluruh warga negara dianggap telah mengetahuinya.

Karena implikasi yang sangat besar itulah, politik membutuhkan idealisme. Ia bukan hanya sekedar visi, imajinasi, dan cita-cita, melainkan daya tahan untuk memperjuangkan, sehingga bisa meraih capaian optimal dan mewujudkan kebaikan dan perbaikan. Seringkali untuk mewujudkan tujuan mulia, yang tersedia hanyalah jalan setapak yang sulit dan mendaki, licin dan dipenuhi batu-batu kerikil tajam yang melukai tapak kaki. Untuk mendakinya sampai ke puncak, diperlukan daya tahan untuk menahan rasa sakit akibat luka-luka yang tak terhindarkan. Idealisme itulah yang akan membimbing politisi ke arah yang jelas karena di sana ada titik tujuan, sehingga membuat tidak tergoda untuk berbelok di tengah perjalanan. Bahkan karena idealisme itu titik tujuan nampak jelas, maka yang lahir adalah daya tahan yang makin besar. Tujuan yang dijadikan sebagai ukuran kemuliaan, juga akan menjadikan politisi memiliki semangat yang berlipat-lipat. Ambisi untuk mewujudkan tujuan mulia akan melahirkan tenaga yang luar biasa untuk menghadapi segala tantangan, hambatan, bahkan juga ancaman yang terbesar. Makin besar tantangan, hambatan, dan juga ancaman, itu justru menambah semangat bahwa tujuan harus segera diwujudkan.

Politisi idealis tidak pernah takut menghadapi kematian. Apalagi dalam arti kiasan, kematian dalam politik bisa terjadi secara berulang-ulang. Jatuh bangun dalam politik adalah hal biasa dan itulah bukti bahwa ia adalah perjuangan besar. Kematian dalam arti yang sesungguhnya dalam perjuangan bagi mereka adalah jalan menuju kebahagiaan hakiki. Lebih dari itu, ia adalah bahan bakar untuk memanaskan semangat generasi berikutnya agar lebih berani dalam mengambil risiko perjuangan. Sebab, generasi sebelumnya telah memberikan teladan yang dengan itu nama mereka selalu dikenang dalam sanjungan lisan-lisan dengan sangat mengagumkan. Idealisme akan membuat mereka menjadi tidak mudah mengatakan “mâ lâ yudraku kulluhû, lâ yutraku ba’dluhû, sesuatu yang tidak bisa dicapai secara keseluruhan, tidak boleh tinggalkan sebagiannya (yang bisa dicapai).” Kaidah tersebut akan digunakan dalam kasus yang sangat terbatas, agar tidak terjerumus ke dalam pragmatisme politik yang akan membuat tersesat dan kemudian melupakan tujuan awal.

Dalam konteks tertentu, mereka berani mengambil garis tegas dan tetap bertahan agar dalam fase tertentu selanjutnya mereka bisa meraih capaian yang sempurna, sehingga lebih mudah untuk mengendalikan keadaan untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang diinginkan. Sebab, bersama dengan mereka yang tidak memiliki idealisme lebih banyak membuang waktu dan tenaga. Lebih dari itu, seringkali sikap yang demikian membuat kepercayaan rakyat berkurang bahkan salah-salah bisa hilang. Padahal, kepercayaan dalam politik merupakan segalanya. Tanpa kepercayaan, tidak akan ada kekuatan.

Untuk merawat idealisme, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi; pertama, memiliki basis dan kerangka pemikiran yang bersifat abadi. Basis dan kerangka yang abadi hanya ada dalam agama yang benar. Agama yang benar, karena ia berasa dari Allah, maka ajaran-ajarannya pasti akan mengantarkan kepada kebaikan dan kebahagiaan hidup dan secara bersamaan menghindarkan dari segala macam mara bahaya yang sesungguhnya.

Kedua, memiliki basis material yang cukup untuk hidup. Dengan sumber logistik yang baik, politisi akan terhindar dari tindakan menjadikan politik sebagai mata pencaharian. JIka politik telah menjadi lahan penghidupan, maka idealisme akan mati dengan sendirinya. Dengan logistik yang cukup, politisi akan terbebas dari jeratan kaum kapitalis yang akan “memaksa” mereka membuat aturan-aturan perundangan yang hanya menguntungkan mereka dan secara bersamaan merugikan kepentingan bersama.

Ketiga, gaya hidup sederhana. Gaya hidup hedonistik membutuhkan biaya yang sangat besar. Untuk memenuhinya tentu saja menjadi tidak mudah, sehingga potensi terjerumus kepada tindakan menghalalkan segala cara yang di dalamnya juga korupsi menjadi besar. Gaya hidup ini akan menyebabkan kecemburuan sosial, sehingga bisa menyebabkan konflik. Perlawanan akan dilakukan oleh mereka yang merasa didhalimi dan dihisap. Dengan hidup asketik, maka semuanya bisa difokuskan hanya untuk perjuangan dalam rangka mewujudkan perbaikan-perbaikan, sehingga terwujud negara yang baik dan dilimpahi ampunan Tuhan. Wallahu a’lam bi al-shawab.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID