logo rilis

ICW Pertanyakan Keseriusan Pemerintah dalam Kasus Novel
Kontributor

17 April 2018, 13:39 WIB
ICW Pertanyakan Keseriusan Pemerintah dalam Kasus Novel
Penyidik Senior KPK Novel Baswedan. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.

RILIS.ID, Jakarta— Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Siti Juliantari, menilai ada ketidakseriusan Pemerintah dalam mengungkap kasus penyerangan berupa air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ini lantaran selama setahun sudah Presiden Joko Widodo belum menentukan sikap terkait usulan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

"Sangat disayangkan ya, Presiden Jokowi yang menyatakan bahwa TGPF akan dilakukan ketika Polri sudah angkat tangan. Seharusnya tanpa perlu menunggu, Presiden bisa memerintahkan untuk dibentuknya TGPF itu," ujar Siti Jauliantari, Jakarta, Selasa (17/4/2018).

Ia pun memandang bahwa apa yang telah dilakukan baik Kepolisian maupun Pemerintah belum sepenuhnya maksimal. Sebab sejauh ini tidak ada perkembangan yang signifikan dalam upaya menemukan si pelaku penyiraman air keras ke penyidik senior KPK itu.

"Sudah setahun berlalu tapi capain yang bisa dilakukan oleh pemerintah baru sekedar mempublikasi sketsa penyiramnya dan hanya membuka hotline pengaduan masyarakat untuk melapor," ungkapnya.

Padahal, seharusnya dalam waktu satu tahun seharusnya Polri diyakininya bisa mengungkap kasus Novel melalui CCTV ataupun keterangan para saksi.

"Sampai kapan Presiden akan menunggu hingga Polri angkat tangan baru bertindak?. Penanganan kasus Novel yang dilakukan Polri jauh berbeda dengan kasus pidana lain yang juga bermodalkan CCTV, yang pengungkapannya cenderung cepat," tegasnya.

Sebelumnya, Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan ingin agar Presiden serius membantu pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadapnya. Sebab sejauh ini menurut Novel Presiden Joko Widodo tampak angkat tangan dalam kasusnya ini.

Ia berharap Presiden seharusnya bisa membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Dari tim itulah ia yakin akan ada banyak fakta-fakta yang sebelumnya tidak terungkap ke publik oleh Kepolisian.

"Saya ingin mengharapkan dia benar-benar serius. Kalau terkait dengan apa yang disampaikan beliau sekarang ini bahwa menunggu saya nggak tahu apakah isyaratnya angkat tangan begitu, saya kira kita bisa lihat beberapa kasus yang lain juga nggak terungkap, penjelasan kepada saya sebelumnya juga nggak terungkap," paparnya di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Novel mengaku kecewa. Pasalnya, hingga kini Presiden Jokowi masih belum menutuskan untuk menbentuk TGPF dan mengandalkan Polri. Padahal, ia menilai Presiden seharusnya punya prinsip yang sama dalam pemberantasan korupsi.

"(TGPF) semuanya harus didukung oleh semua pihak. Bapak Presiden juga harusnya mendukung hal itu. Saya mengharapkan itu, yang menjadi kekecewaan saya," paparnya.

Ia menegaskan pentingnya dibentuk TGPF. Sebab, menurutnya banyak fakta-fakta yang tidak diungkap oleh pihak kepolisian. Oleh karenanya, TGPF bertugas untuk mencari fakta-fakta yang tidak terungkap itu untuk kemudian ditindaklanjuti oleh Polri.

"Saya berpikir bahwa tim gabungan pencari fakta ini penting untuk melihat apakah betul ucapan saya bahwa ada banyak fakta-fakta yang tidak diungkap. Ada banyak fakta-fakta yang tertutupi. TGPF bukan untuk mencari bukti. Tim gabungan pencari fakta pencari fakta-fakta yang bisa memberi informasi.  Dengan begitu kita menjadikan informasi kepada Presiden dan juga informasi kepada bapak Kapolri sehingga upaya pengungkapannya menjadi serius dan benar," paparnya.

Diketahui tepat satu tahun kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Novel Baswedan belum temukan titik terang. Akibat kejadian itu, mata kiri Novel rusak parah dan haeus dioperasi di Singapura. Hingga saat ini Kepolisian belum juga menemukan pelakunya. Padahal mereka sudah merilis beberapa sketsa wajah terduga pelaku. 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)