logo rilis
Huru-hara Mako Brimob Bikin Rupiah Tambah Jeblok?
Kontributor
Elvi R
11 Mei 2018, 15:49 WIB
Huru-hara Mako Brimob Bikin Rupiah Tambah Jeblok?
Kerusuhan. ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendy Supratman

RILIS.ID, Jakarta— Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyebut, huru-hara yang terjadi di Mako Brimob berdampak pada pelemahan Rupiah yang lebih parah, meski sedikit. Menurutnya, peristiwa politik berpengaruh pada iklim investasi yang pada akhirnya berdampak pada Rupiah. Diprediksi, pelemahan nilai tukar rupiah akan terus berlanjut hingga akhir Mei 2018. Terbuka peluang kurs terdepresiasi hingga Rp14.000-Rp14.200 per dolar AS.

"Kalau serangan Mako Brimob efeknya masih kecil. Investor lebih lihat yang fundamental jangka panjang," ungkap kepada rilis.id, Jumat (11/5/2018).

Lebih lanjut, Bhima mengatakan, beberapa faktor yang membuat kurs rupiah melemah, seperti investor melakukan spekulasi terkait prediksi kenaikan Fed rate pada rapat FOMC Juni mendatang. Setelah pengumuman data pengangguran AS sebesar 3,9 persen terendah, bahkan sebelum krisis 2008. 

"Spekulasi ini membuat capital outflow dipasar modal mencapai Rp11,3 triliun dalam 1 bulan terakhir. Spekulasi pasar jelang rapat Fed membuat sentimen investasi di negara berkembang khususnya Indonesia menurun," katanya.

Bhima menjelaskan, investor juga bereaksi negatif terhadap rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2018 yang hanya mencapai 5,06 persen. Hal ini disebabkan konsumsi rumah tangga masih melemah terbukti dari penjualan mobil pribadi yang anjlok -2,8 persen di triwulan I 2018 dan data penjualan ritel yang turun. 

"Sentimen ini membuat pasar cenderung pesimis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi 2018 yang ditarget tumbuh 5,4 persen," katanya.

Ditambah, lanjut Bhima, harga minyak mentah terus meningkat hingga US$74-75 per barel akibat perang di Suriah dan ketidakpastian Perang Dagang AS-China. Hal ini membuat inflasi jelang Ramadhn semakin meningkat karena harga bahan bakar minyak (bbm) non subsidi (pertalite, pertamax) menyesuaikan mekanisme pasar. 

"Inflasi dari pangan juga perlu diwaspadai karena harga bawang merah naik cukup tinggi dalam 1 bulan terakhir," pungkasnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)