logo rilis
Hujan Terus-menerus Jelang Kemarau, Ini Sebabnya
Kontributor
Ning Triasih
26 April 2018, 15:50 WIB
Hujan Terus-menerus Jelang Kemarau, Ini Sebabnya
ILUSTRASI: Pixabay

RILIS.ID, Jakarta— Sepekan terakhir, Jakarta diguyur hujan setiap hari, mulai dari intensitas ringan hingga hujan lebat. Hujan terus-menerus ini kemudian memunculkan tanda tanya, mengingat sebentar lagi musim kemarau.

Seperti diketahui, akhir-akhir ini cuaca ekstrem melanda sejumlah daerah seperti hujan disertai puting beliung di Yogjakarta dan Minahasa, banjir di Cilegon dan Bumi Ayu. Padahal, akhir April ini merupakan musim peralihan dari penghujan menuju kemarau.

Menanggapi tanda tanya masyarakat soal hujan berturut-turut beberapa hari terakhir, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, memberikan penjelasan sebagai berikut:

Herizal dalam press release yang diterima rilis.id, Kamis (26/4/2018) mengungkapkan, meningkatnya aktivitas cuaca yang cukup signifikan di sejumlah wilayah beberapa hari terakhir, selain pengaruh dinamika cuaca lokal dan giatnya aktivitas cuaca,  juga didukung oleh aktifnya aliran massa udara basah yang lebih dikenal dengan fenomena skala regional Madden Julian Oscilation (MJO). MJO merupakan fenomena gelombang atmosfer tropis yang merambat ke arah timur dari Samudra Hindia ke Samudera Pasifik. 

MJO memiliki siklus perambatan 30-90 hari dan dapat bertahan pada suatu fase (lokasi perambatan yang digambarkan dalam kuadran) sekitar 3-10 hari. Saat ini fase basah (konvektif) MJO terpantau telah berada di kuadran 4, di wilayah Benua Maritim Indonesia.

Akibatnya, MJO memengaruhi peningkatan suplai air yang berkontribusi pada pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah. 

MJO kali ini juga berkaitan dengan berkembangnya banyak pusaran di sekitar wilayah Indonesia, yang memicu pemusatan massa udara dan jalur pertemuan angin (konvergensi) yang dapat memicu pertumbuhan awan yang signifikan.

Sementara dari sisi iklim, MJO bisa meredam suhu panas kekeringan di di beberapa daerah yang telah memasuki musim kemarau. Namun, itu bukan berarti musim kemarau jadi gagal atau tertunda. MJO diperkirakan aktif hingga awal Mei nanti. Setelah itu kondisi atmosfer akan kembali cenderung kering, musim kemarau diperkirakan dominan di semua tempat di Pulau Jawa.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)