logo rilis
Hugelkultur, Buka Lahan Tanpa Bakar
Kontributor
Intan Nirmala Sari
29 Maret 2018, 21:23 WIB
Hugelkultur, Buka Lahan Tanpa Bakar
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Hugelkultur menjadi pilihan yang ditawarkan Institut Agroekologi Indonesia (INAgri) untuk menyiapkan lahan pertanian tanpa bakar.

"Tidak ada alasan lagi petani sulit menyiapkan lahan tanpa bakar," kata Kepala Sekolah Lapang Petani Gambut, Sumatera Selatan (Sumsel) Syamsul Asinar Radjam, Kamis (29/3/2018). 

Menurutnya, Hugelkultur yang ditawarkan INAgri disambut baik oleh Badan Restorasi Gambut (BRG). "BRG jadikan Hugelkultur sebagai materi di kurikulum sekolah lapang," ungkapnya. 

Sekolah lapang yang pertama dibuka di Desa Bangsal, Kecamata Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumsel. Proses belajar dipandu para praktisi agroekologi dari Institut Agroekologi Indonesia (INAgri).

Prinsip penyiapan lahan tanpa bakar adalah, memanfaatkan sebanyak mungkin biomassa tumbuhan di lahan yang akan dikelola sebagai lahan budidaya. "Kita kumpulkan mulai dari batang kayu, dahan, ranting, daun, hingga hasil penyiangan gulma dan limbah hasil pertanian," jelasnya.

Limbah hasil pertanian seperti jerami, batang jagung, bonggol pisang, dan sekam menjadi bermanfaat. Menurutnya, prinsip berikutnya adalah pengolahan tanah dan bahan kimia sintetis minimum.

Peneliti Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Destika Cahyana mengatakan, istilah dan model hugelkultur diadopsi dari Jerman tetapi dapat diadopsi dengan beberapa penyesuaian kondisi lokal. "Hugel artinya gundukan, pada konteks tertentu mirip pada pembuatan tukungan dan surjan oleh petani rawa di Kalimantan Selatan," kata Destika. 

Menurut salah satu peserta sekolah lapang, Abdul Kadir dari Desa Gilirang, teknik tersebut juga mirip teknik staking yang mereka lakukan di atas lahan. 

Menurut Syamsul, di Indonesia teknik ini juga mirip praktik puntal sebar yang dilakukan petani rawa dan gambut di Kalimantan Selatan dan sistem ngagulik ala masyarakat Jawa Barat. "Intinya, bahan organik tidak dianggap pengganggu, melainkan bahan penyubur yang dapat dikomposkan di atas lahan," jelasnya. 

Sumber: Destika Cahyana/Humas Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)