logo rilis
HMI Makassar: Pertamina Tak Transparan Naikkan Harga BBM Non Subsidi
Kontributor
Kurniati
28 Maret 2018, 01:35 WIB
HMI Makassar: Pertamina Tak Transparan Naikkan Harga BBM Non Subsidi
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Makassar— Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar, Furqan, menilai Pertamina tidak transparan, karena menaikkan Bahan Bakar Minyak non subsidi dua kali dalam setaun.

"Pertamina dinilai tidak transparan menaikkan BBM non subsidi dua kali dalam satu tahun," katanya di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (27/3/2018).

Furqan menegaskan, HMI Cabang Makassar menolak kenaikan BBM non subsidi, karena akan memicu kenaikan inflasi dan harga bahan pokok di masyarakat.

"Kami menilai kenaikan harga BBM itu akan menurunkan daya beli masyarakat karena dipastikan harga bahan pokok ikut naik," tegasnya.

Seharusnya, kata Furqan, pemerintah bersama pihak terkait dalam hal ini Pertamina, menyampaikan ke publik secara terbuka dengan alasan rasional sehingga, masyarakat tahu ada kenaikan.

"Dinaikkan lantas tidak diumumkan secara terbuka, Pertamina juga terkesan diam-diam menaikkan harga BBM non subsidi. Tentu ini akal-akalan saja dan jelas ada dugaan memanfaatkan kesempatan," tegasnya.

Furqan menambahkan bahwa kenaikan BBM non Subsidi telah menafikan sila kelima Pancasila yakni Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, tetapi faktanya apakah adil bila semua masyarakat dibebani.

"Saat ini BBM subsidi jenis premium sudah jarang dijual di SPBU dan faktanya rata-rata SPBU menjual BBM non subsidi. Mau tidak mau masyakat pasti membeli itu, ini akal-akalan yang sengaja mendorong masyarakat pakai BBM non subsidi, sementara BBM subsidi terus dikurangi, ada apa?" beber dia.

Sebelumnya, puluhan aktivis HMI Cabang Makassar menggelar aksi di depan sekertariatnya jalan Botolempangan, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa petang.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa memblokir sebagian jalan. Bahkan dalam aksi itu mereka terlibat ketegangan dengan aparat kepolisian baik yang berpakaian preman maupun berpakaian lengkap.

Alasannya, polisi melarang mahasiswa membakar ban bekas, sementara mereka ngotot mau membakar ban di jalanan. 

Sontak gerakan ini pun dihalangi petugas yang sudah berjaga-jaga guna mengamankan jalannya aksi.

Tarik menarik ban bekas pun tidak terhindarkan antara kedua pihak, mereka saling mempertahankan, bahkan salah satu mahasiswa diduga terkena pukulan dari oknum polisi dalam insiden itu ketika mempertahankan ban bekas tersebut. 

Hal ini lantas memicu kemarahan mahasiswa hingga terjadi adu mulut.

"Jangan melakukan intervensi terhadap kami pak polisi. Aksi ini untuk menyampaikan aspirasi yang dilindungi Undang-undang dan publik sudah terlena dan tidak semua tahu BBM sudah naik tanpa pemberitahuan," ucap mahasiswa saat inseden itu.

Beruntung ketegangan mulai mencair setelah polisi memilih kooperatif. 

Hujan cukup deras pun mendukung aksi tersbut akhirnya berhenti, hanya saja masih ada palang ditempelkan spanduk bertuliskan Tolak Kenaikan BBM terpasang di badan jalan Botolempangan.

Berdasarkan harga BBM non subsidi jenis Pertamax dengan oktan 92 dilansir dilaman pertamina diketahui mengalami kenaikan Rp300 atau Rp8.900 per liter dibandingkan harga sebelumnya. 

Sedangkan harga Pertalite dengan oktan 90 juga naik Rp200 dari Rp7.600 naik menjadi Rp7.800 per liter.

Sedangkan harga BBM non subsdi di berbagai daerah juga beragam, untuk Pertamax Rp8.900-Rp9.000 per liter, 
Pertamax Turbo Rp10.200-Rp10.300 dan Pertalite antara Rp7.800-Rp8.000 per liter.
 

Sumber: ANTARA


komentar (0)