logo rilis
HMI, Gerakan Sosial, dan Islam Milenial
Kontributor
RILIS.ID
14 Februari 2018, 01:16 WIB
HMI, Gerakan Sosial, dan Islam Milenial
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

Oleh Ilham Akbar Mustafa
Calon Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam

SULIT untuk membantah gerakan sosial dewasa ini menunjukkan gambar wajah yang sangat sporadis dan sektarian. Terdapat fenomena yang mencengangkan, antusiasme bangunan gerakan sosial sampai saat ini belum mampu melampaui sekat-sekat perbedaan yang ada. Kenyataannya, solidaritas sosial yang bermunculan terkesan berserakan dan terpusat kepada perebutan-perebutan kepentingan politik. Hal demikian tidak hanya ditampilkan organ politik, birokrasi, ataupun relawan kemanusiaan. Hal yang sama juga terkooptasi pada organ-organ kemahasiswaan setiap merumuskan gerakan sosial.

Dalam banyak pengalaman, fragmentasi gerakan sosial seperti ini tentu bukanlah hal yang alamiah. Secara eksplisit, tidak adanya pijakan kolektif dalam sebuah gerakan menjadi salah satu alasan gerakan sosial menjadi lebih fragmentatif dan fakultatif. Lebih jauh, hal ini pula yang menjadi titik mulanya keterbatasan dari gerakan sosial, ketika berhadap-hadapan dengan sejumlah problem struktural yang terjadi.

Perlu diingat, gerakan sosial bukan sekadar membentuk suatu blok kepentingan kelompok tertentu dengan cara mengeksploitasi isu-isu publik. Gerakan sosial semestinya bersimplikasi pada terbentuknya partisipasi bersama dari kelompok-kelompok motoris. Ini bukanlah hal mudah. Memicu partisipasi kolektif sekaligus menjungkalkan seluruh persoalan struktural akan menjadi sulit, ketika di waktu yang bersamaan sebuah organisasi tidak dilengkapi dengan program kerja, perangkat, serta agenda-agenda revolusioner di dalamnya.

Sejalan dengan itu, ada fakta yang mendasar, denyut aktivisme yang hidup hari ini pada organ-organ kemahasiswaan pada umumnya belum memiliki posisi yang tegas (political standing) untuk menjadi sebuah front pembebasan. Terlebih menjadi corong perlawanan atas ketertindasan-ketertindasan yang membelit rakyat.

Akibatnya, di satu sisi agenda kejuangan bersama menjadi tersendat karena fragmentasi gerakan sosial. Di sisi lain, kemiskinan, rasisme, kekerasan, krisis ekologis, dan kapitalis-neoliberalisme yang terstruktural semakin bercokol dalam kehidupan masyarakat. Demikian juga dengan privatisasi terhadap layanan publik, seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, maupun tanah milik publik yang dari hari ke hari kian dilakukan secara masif dan terstruktur. Konsekuensi ini tentu bisa dianggap sebagai hal yang tak terpisahkan dari pergulatan gerakan sosial kini yang nyaris berkutat pada hal partikular serta luput atas problem-problem yang lebih kompleks.

Untuk itu, pelampauan atas hal tersebut tentu mensyaratkan narasi baru tentang sebuah gerakan kolektif. Dengan kata lain, alasan-alasan yang mendesak seperti itu seharusnya menjadi titik rangsangan dalam melakukan praktik-praktik berorganisasi, mulai dari merumuskan masalah, menentukan prioritas masalah, hingga pada pencarian solusi. Sehingga, secara otomatis, visi organisasi merupakan salah satu pintu awal untuk mendefinisikan tentang gerakan tersebut.

HMI dan Tantangan Kebangsaan

Di tengah benturan-benturan sosial yang kini terjadi, menjadi hal paling krusial adalah organisasi harus mampu memodifikasi dirinya menjadi avant-garde dalam mengeksplorasi berbagai kebuntuan yang ada. Sulit membayangkan ketika organisasi justru tampak seperti tertunduk dan oportunistik. Yang terjadi, makna keberadaan organisasi sebagai inisiator membangun kekuatan gerakan juga turut sirna.

Begitu pula pada konteks kebangsaan. Organisasi harus terus dipaksa lebih adaptif dan responsif dengan persoalan yang terus-menerus hadir di dalam negara. Sekiranya, tugas ini menjadi relevan dengan maraknya berbagai sentimen identitas yang terus merebak di Indonesia.

Dalam banyak momentum, harus diakui tajamnya perdebatan yang dilandasi sentimen identitas menjadi pukulan mundur bagi pembangunan demokratisasi di Indonesia saat ini.

Realitas politik ini sendiri menjadi semacam tantangan terhadap organ kemahasiswaan untuk segera bisa mengambil posisi yang tegas dalam menentukan orientasi politik organisasinya. Tidak untuk ikut menyuburkan kekerasan maupun sentimen rasial, melainkan mengimbangi atau bahkan melawan propaganda yang telah dikembangkan kalangan konservatif-puritan di Indonesia.

Organisasi harus mewujudkan dirinya sebagai pendukung gagasan moderat dan pluralisme dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Sangat jelas tentunya, dengan bersikap inklusif, organisasi bisa memberikan energi baru yang secara signifikan dapat menentukan masa depan keberagaman di Indonesia. Meskipun dalam spektrum ini, ada beberapa hal yang sebenarnya juga tak bisa diabaikan organisasi pengusung ide-ide moderasi. Bahwa, sikap inklusif organisasi tentu harus selalu berbarengan dengan ketajaman-ketajaman pandangan organisasi untuk memotret lebih jauh tentang ketidakadilan yang terjadi di masyarakat.

Berangkat dari pikiran itu, formulasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi salah satu kekuatan progresif dan transformatif merupakan langkah paling relevan. HMI perlu bertansformasi menjadi rumah gagasan bagi Islam progresif untuk mewakili kelompok-kelompok termarginalkan. HMI memiliki peran utama untuk menyelesaikan persoalan-persoalan ketidakdilan sosial di lapangan. Praktis dengan begitu, HMI dapat mengisi ruang-ruang kosong yang hari ini tidak terjamah banyak organ kemahasiswaan lainnya. Ruang-ruang yang selama ini diisi dengan pelbagai diskriminasi dan intoleransi kelompok tertentu.

Di samping tugas tersebut, HMI memikul tanggung jawab untuk melawan bentuk kejumudan berpikir dalam masyarakat. Meskipun juga tidak bisa dimungkiri, arus pemikiran moderat masih dianggap beberapa kelompok umat Islam bertentangan dengan pandangan pokok dalam ajaran Islam. Resistensi ini berlangsung cukup masif, sehingga Islam rahmatan lil alamin sebagai narasi inti perjuangan belum bisa didudukkan sebagai proyeksi bersama.

Di sisi lain, harus diakui pula, percakapan tentang modernisme Islam sudah terlalu lama diasingkan dari HMI. Pasca-Nurcholish Madjid, HMI yang pernah muncul sebagai lokomotif modernisme Islam perlahan-lahan mulai tergerus dengan sendirinya. Hal demikian terjadi, karena HMI berjarak cukup jauh dari medan gagasan dan terlalu banyak menarik diri dalam pusaran politik praktis. Implikasi langsung dari hal tersebut membuat HMI terseok-seok untuk menyesuaikan diri dengan lajunya peradaban. Akan tetapi, proses ini tentu dipahami sebagai sesuatu yang dinamis dalam sebuah organisasi dan bukanlah sesuatu yang permanen. Bila hal itu dapat dilakukan kelompok lain, HMI tidak mustahil dapat melakukan hal yang sama.

Terlepas dari segala keterbatasan itu, HMI sangat memungkinkan hadir sebagai faktor perubahan sosial. Peranan HMI mewujudkan negara kesejahteraan masih sangat realistis dan logis. Tentunya dengan sebuah catatan, secara operasional, HMI perlu melakukan persenyawaan antara kekuatan gerakan Islam modernis dan spirit egalitarian. Tanpa ada upaya itu, dalam kondisi tertentu, HMI hanya terlihat sebagai barisan penjaga kekuasaan dan kemapanan oligarki dalam negara. Yang juga pada saat yang sama, diam terhadap ketimpangan sosial-ekonomi yang terjadi.

HMI dan Islam Milenial

Posisi HMI untuk menawarkan preskripsi baru tentang Islam milenial juga sangatlah penting. Gerakan sosial, khususnya gerakan mahasiswa Islam, membutuhkan penyesuaian-penyesuaian yang kontekstual dengan warna generasi sekarang. Hal ini dimungkinkan karena kondisi objektif, di mana gerakan Islam haruslah adaptif dengan perputaran roda zaman.

Pada titik tertentu, Islam milenial merupakan perwujudan dari progresivitas HMI membaca kompleksitas relasi-relasi sosial kini. Dalam terma Islam milenial, jika digali lebih dalam, akan ditemukan cita-cita sosial umat Islam yang sejalan dengan situasi saat ini. Di mana bicara soal Islam milenial, tentu akan merujuk pada suatu generasi Islam pembaru yang tidak gagap dengan perubahan-perubahan dan anti terhadap perbedaan.

Karakteristik Islam milenial akan tercermin pada suatu generasi yang terbuka terhadap keragaman pandangan dan cara berpikir. Di tangan Islam milenial, perbedaan-perbedaan konsepsi bukanlah kendala saling bergandengan bersama lainnya melakukan kerja-kerja perubahan. Dalam sikap keagamaan, generasi Islam milenial secara proporsional dapat menempatkan domain private dan publik, yang profan dan yang sakral. Dengan sikap yang seperti ini, Islam milenial tidak mudah masuk ke dalam jebakan-jebakan fundamentalisme dan radikalisme.

Generasi Islam milenial memiliki keahlian yang mumpuni dan cakrawala berpikir yang luas. Juga sebagaimana masyarakat modern, generasi Islam milenial mafhum terhadap perkembangan digital dan teknologi. Generasi ini bergaul dengan segala pikiran dan kritis terhadap ketimpangan sosial. Bahkan, tidak berlebihan jika generasi Islam milenial merupakan salah satu jalan keluar dari masalah-masalah yang kini membelenggu negara. Karena ditopang dengan kekayaan informasi dan kecanggihan teknologi, generasi Islam milenial mempunyai kemampuan daya cipta atas hal-hal baru.

Dengan demikian, pengarusutamaan wacana Islam milenial dapat menjadi penyegaran baru terhadap gerakan mahasiswa Islam. Ikhtiar ini juga tidak lain dalam rangka memperbesar barisan-barisan generasi baru Islam untuk membereskan sekian banyak ketertinggalan yang ada.

Di masa ketika kebencian dimobilisasi dengan pelbagai rupa, generasi milenial ini tampil sebagai pembeda. Mereka muncul menjelaskan, tidak ada tempat apa pun bagi kebencian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka pun tidak tergelincir pada fanatisme buta dan menutup diri dari kritik.

Mengingat betapa pentingnya tujuan-tujuan ini, tentu saja HMI sebagai kelembagaan, yang memiliki sumber daya serta infrastruktur yang memadai, berkewajiban melakukan kejuangan-kejuangan lain. Dengan begitu, berkubu-kubu gerakan sosial yang terbangun hari ini, HMI sebisanya menciptakan tatanan kesadaran baru menyatukan berseraknya gerakan itu. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui kolektivitas gerakan yang bersandar pada semangat komunitarian.

Bersamaan dengan itu, dengan menjadi organisasi mahasiswa Islam yang moderat dan sensitif terhadap isu kemanusiaan, tentu saja HMI akan hadir di setiap konflik maupun perselisihan dalam kehidupan masyarakat. Selanjutnya, untuk menjawab segala kebutuhan zaman saat ini, HMI siap menciptakan terobosan-terobosan baru yang kompatibel dan efektif.

Dengan demikian, gerak juang HMI akan tetap berada pada rel yang semestinya, yang sekalipun aral melintang, HMI akan tetap menjadi jalan kejuangan yang sebagaimana mestinya; untuk rakyat, bangsa, dan negara.


500
komentar (0)