logo rilis
HMI dan Tantangan Generasi Milenial
Kontributor
Yayat R Cipasang
19 Februari 2018, 13:58 WIB
HMI dan Tantangan Generasi Milenial
HMi dan Tantangan Generasi Millenial. ILUSTRASI: RILIS.ID/Fatkhurohman Akbar

Oleh Mokhamad Abdul Aziz
Direktur Eksekutif Monash Institute dan  Ketua Umum PW GPII Jawa Tengah

HIMPUNAN Mahasiswa Islam (HMI) menyelenggarkan Konggres ke-30 di Kota Ambon, yang dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 14 Februari 2018. Tepat di bulan ini pula, HMI genap berusia 71 tahun. Organisasi mahasiswa yang didirikan oleh Lafran Pane pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta ini telah melewati berbagai dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Suka dan duka telah menjadi rasa yang mewarnai jiwa HMI dalam menapaki perjalanannya. Kontribusi HMI dalam rangka ikut mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa tidak diragukan lagi, sekalipun pada saat yang bersamaan, evaluasi dan otokritik terhadap internal organisasi harus tetap dilakukan. Pertanyaannya, di usia yang ke-71 itu, sudahkan HMI mencapai tujuannya?

Jika diibaratkan sebagai manusia, HMI telah memasuki usia senja. Usia yang bagi sebagian besar orang dianggap sebagai ‘bonus’. Namun bagi HMI, usia 71 tahun itu justru menjadi tantangan untuk terus aktif dan berkreasi dalam mengemban fungsi dan perannya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan. Usia yang semakin matang itu mestinya menjadikan HMI lebih berpengalaman dan taktis dalam menetapkan peran-perannya kehidupan berbangsa. Dalam konteks ini, HMI tetap dinanti kontribusinya, untuk melaksanakan tanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridlai Allah swt. 

Sejak awal didirikan, HMI memiliki dua pandangan dalam menetapkan gerak langkahnya, yaitu visi keindonesiaan dan keislaman. Dua tujuan awal saat HMI berdiri adalah: 1) Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. 2) Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam. Dua ruang ini menjadi garapan yang sampai kini dipertahankan, sekalipun dengan bentuk dan warna yang mungkin berbeda. 

Dalam konteks kini, visi itu tetap menjelma menjadi satu kesatuan dengan gerak langkah HMI, untuk membekali kader-kadernya agar mimiliki pemahaman yang cukup berkenaan dengan keislaman dan keindonesiaan kita. Isu-isu nasionalisme-patriotisme, aliran dan sekte-sekte di dalam Islam, hingga dinamika politik antara keduanya menjadi makanan renyah kader HMI ketika berdiskusi ria di pojok-pojok kampus saat itu.

Seiring dengan godaan dan dinamika mahasiswa yang kian kompleks, HMI memiliki tantangan untuk mengikuti student interest dan memenuhi student need sekaligus. Di satu sisi, HMI harus dapat menarik minat mahasiswa “zaman now” dengan menyesuaikan keinginan mereka, tetapi juga dalam waktu yang bersamaan juga harus menjaga agar kualitas kader HMI tidak menurun, dan bahkan harapannya bisa lebih baik. 

Memahami student interest dan student need ini tentu bukanlah perkerjaan yang ringan, apalagi dihadapkan kepada tantangan generasi milenial. Tetapi bukan berarti nhal ini tidak mungkin untuk dilakukan. Mau tidak mau, suka tidak suka, jika HMI tetap ingin mewujudkan tujuan—terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridlai Allah swt.—hal itu harus dilakukan.

Dunia telah menujukkan perubahannya. Wajah zaman yang kini sangat jauh berbeda dengan jaman saat HMI berdiri. Bersamaan dengan itu, tantangan mahasiswa kini dan dulu juga jauh berbeda. Mampukah HMI berperan? Bagaimana HMI menjalankan peran itu? Kemanakah muara HMI nantinya? Pertanyaan-pertanyaan itu akan terus bertambah seiring dengan keraguan dan harapan bangsa Indonesia terhadap HMI itu sendiri. Harus diakui, kini manusia dan teknologi begitu akrab dan romantis, tidak terkecuali mahasiswa. 

Hampir tidak tampak lagi di sudut-sudut kampus, mahasiswa yang tidak memegang gadget atau smartphone. Sekarang sudah mulai sulit ditemukan mahasiswa yang ke mana-mana membawa buku bacaan, kecuali karena sedang menyelesaikan tugas akhir perkuliahan. Mereka memiliki ponsel pintar yang bisa menyimpan buku-buku, memutar film-film perjuangan, dan juga membuat karya baru. Inilah potret generasi milenial. Generasi canggih dengan segala keterbatasannya.

Millennial, yang kali pertama dikenalkan oleh Karl Mannheim dalam esainya berjudul "The Problem of Generation” pada 1923, atau kadang juga disebut dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980-2000-an. 

Mahasiswa yang lahir pada tahun-tahun itulah yang kini berhimpun di organisasi mahasiswa bernama HMI. Generasi ini memiliki ciri khas tersendiri. Mereka lahir pada saat TV sudah berwarna, ketika remaja sudah booming internet, dan menuju dewasa bergelut mesra dengan gadget. Sebagaimana dikutip dari rumahmillennials.com, di Indonesia sendiri dari jumlah 255 juta penduduk yang telah tercatat, terdapat 81 juta merupakan generasi milenial atau berusia 17-37 tahun. Hal ini berarti Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk membangun negaranya. Siapkah HMI memaksimalkan peluang itu?

Era kini adalah era social media. Sebagian besar penggunanya adalah generasi milenial. Mereka sangat mendominasi, jika dibandingkan dengan generasi X. Banyak orang tua bilang jika generasi kini cenderung berfoya-foya, hedonis, dan membanggakan pola hidup bebas. Tidak sedikit pula yang bilang karakteristik generasi kini, yaitu apatis dan individual. Lebih banyak dari mereka yang tidak peduli terhadap keadaan sosial. Apalagi disuruh mengerti dunia politik dan perkembangan ekonomi kita. 

Bersiaplah menaruh kekecewaan, jika seandainya hal itu benar-benar didata dan diteliti.Dalam kerangka dan konteks itulah, tantangan HMI semakin berat, baik internal maupun eksternal. Padahal, roda organisasi harus terus dikayuh menuju tujuan muara kebahagiaan dan kemakmuran yang hakiki. Oleh sebab itu, HMI harus mampu beradaptasi, menyesuaikan student need dan student interest

Bukan tidak mungkin, HMI dalam konteks tertentu akan mengeluarkan jurus “mimikri” untuk menghindari bahaya kematian yang mengancam. Ini tidak hanya soal mempertahankan hidup, tetapi adalah soal peran, tugas, dan tanggung jawab yang makin berat—berbekal kecanggihan ideopolitorstratak HMI. Namun, mimikri adalah strategi awal dan harus dilanjutkan dengan “doktrinasi alienasi” sampai kepada generasi yang highly qualified.

Mungkin HMI perlu berhenti membanggakan jumlah kader yang melimpah dan membanggakan prestasi alumni yang berdiaspora dengan perannya masing. Kini, HMI harus mulai berani berpikir bagaimana menjadi generasi “asing” untuk zamannya. Sungguhpun sangat besar perjuangan Nabi Muhammad saw. ketika awal membawa Islam ke tanah Arab, menjadi orang asing, hingga ia benar-benar diasingkan, diancam keselamatan jiwa dan raganya, meskipun pada akhirnya memperoleh kemenangan yang nyata, membuat peradaban baru mengubah keadaan jahiliyah kepada zaman yang penuh cahaya Islam. 

Inilah tantangan HMI, menjadi “nabi kecil” untuk mengeluarkan generasi melienial dari gelapnya zaman. Karena sampai kapanpun, nabi-nabi kecil itu diperlukan untuk meneruskan misi profetik Rasulullah saw sebagai khalifah di bumi. Wallahu a’lam bi al-shawaab.


500
komentar (0)