logo rilis

HIPKA Gandeng JATMAN Dukung Pengembangan Kewirausahaan Ponpes
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
15 Mei 2018, 17:20 WIB
HIPKA Gandeng JATMAN Dukung Pengembangan Kewirausahaan Ponpes
Ilustrasi peternak. FOTO: Balitbang Kementan.

RILIS.ID, Semarang— Lebih dari 600 pondok pesantren yang tergabung dalam Jamiyah Ahlith Thariqoh Al Mutabaroh an Anahdliyah (JATMAN) memulai program pengembangan kewirausahaan untuk menumbuhkan wirausaha di bidang pertanian, peternakan dan perdagangan.

Program pengembangan kewirausahaan pesantren tersebut meliputi Santri Bertani, Santri Beternak dan Santri Berdagang. Santri bertani dengan fokus pada komoditi vanili, edamame, katuk dan jagung, sementara Santri beternak untuk komoditi burung puyuh, penggemukan sapi, pembibitan domba serta budidaya lele.

“Sedangkan Santri Berdagang fokusnya adalah memasarkan produk-produk yang dihasilan program santri bertani dan santri beternak baik untuk konsumsi di lingkungan pesantren maupun masyarakat umum,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Sunan Gunung Jati Ba'alawy, Semarang, KH Muhammad Masroni, di Semarang dalam siaran persnya, Selasa (15/5/2018).

Acara tersebut antara lain Habib Luthfi bin Yahya, Rektor IPB Arief Satria, Wakil Ketua Umum HIPKA (Himpunan Pengusaha Kahmi) Subandriyo, Direktur SQF Slamet Wuryadi, Direktur Medco Energy Budi Basuki, perwakilan dari Kementerian Tenaga Kerja dan Otoritas Jasa Keuangan, Pemprov Jawa Tengah, Universitas Negeri Semarang serta para utusan dari sekitar 620 pesantren dari Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY dan Jawa Barat. 

Habib Luthfi bin Yahya menyampaikan bahwa peluncuran program kewirausahaan bagi santri dan pesantren tersebut akan ditindaklanjuti dengan kegiatan-kegiatan usaha sehingga pesantren juga akan banyak melahirkan para wirausahawan yang sukses dan tangguh terutama di bidang pertanian, peternakan dan perdagangan.

Pada kesempatan sama, Rektor IPB Arief Satria mengemukakan, IPB memiliki sumberdaya untuk mendukung pengembangan ekonomi pesantren baik untuk bidang pertanian maupun peternakan.

“Pesantren sudah memiliki lahan yang akan digunakan untuk pertanian dan peternakan.  IPB akan mendukung program ini dan siap untuk bersinergi mengembangkan kewirausahaan pesantren,” tutur Arief Satria.

Peternakan Puyuh

Sebagai salah satu wujud dari program tersebut, Himpunan Pengusaha Kahmi (HIPKA) bersama Slamet Quail Farm (SQF) menginisiasi pengembangan peternakan burung puyuh di sejumlah pondok pesantren yang dimulai dengan memberikan program pelatihan dan pemagangan.

Wakil Ketua Umum HIPKA, Subandriyo, mengemukakan pihaknya telah berbicara dengan sejumlah pimpinan pondok pesantren yang berminat menjalankan usaha peternakan burung puyuh dan direncakan akan segera ditindaklanjuti setelah Lebaran Iedul Fitri 2018.

Direktur SQF, Slamet Wuryadi, menjelaskan sudah ada lebih dari 30 pesantren yang mengajukan diri untuk mengikuti pelatihan dan pemagangan peternakan puyuh. 

Melalui kegiatan tersebut, peserta dapat menguasai teknik budidaya mulai dari pembibitan, perawatan sampai pemasaran secara menyeluruh.

“Sudah menjadi komitmen kami untuk bersinergi dengan pesantren mengembangan peternakan puyuh yang tentunya sangat berguna dalam melahirkan peternak-peternak puyuh yang sukses. Dan itu tidak butuh waktu lama,” urai Slamet yang juga Ketua Umum Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia (APPI).

Mengenai pasar telur dan burung puyuh, Slamet menjelaskan dari ribuan peternak puyuh skala UMKM yang ada saat ini, masih kekurangan produksi untuk menyuplai pasar. Karena itu, pihaknya juga bersedia menjadi penjamin pasar (off taker) bagi produksi telur puyuh dari pesantren.

Slamet menjelaskan, nilai nutrisi tiga butir telur puyuh setara dengan satu butir telur ayam. Terlebih kandungan nutrisi telur puyuh sangat bagus untuk dikonsumsi oleh anak pada masa pertumbuhan. 
“Makanya telur puyuh ini juga sangat bagus untuk dikonsumsi para santri.” 

Subandiriyo menambahkan, selama ini ada informasi yang distortif mengenai telur dan daging burung puyuh yang disebutkan sebagai makanan tidak sehat dan perlu dihindari. 

“Padahal kandungan nutrisi telur dan daging puyuh itu sehat dan bermanfaat bagi tubuh manusia sebagiama sudah dibuktikan dengan hasil uji Lab dari IPB, UGM, PT Sucofindo dan BPPT yang menunjukkan puyuh itu sehat untuk dikonsumsi,” ungkapnya.  

Mengenai pengembangan kewirausahaan, Subandriyo menambahkan bahwa salah satu misi HIPKA adalah menumbuhkan masyarakat wirausaha untuk percepatan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan. 

Untuk itu, HIPKA terus mendorong keberpihakan pemerintah pada pengembangan usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi di Indonesia.

“Melalui jejaring HIPKA di seluruh Indonesia, kami mendorong lahirnya UMKMK baru di seluruh Indonesia pada berbagai tingkatan , mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, propinsi maupun di tingkat pusat. Salah satunya melalui pelatihan kewirausahaan, sebagaimana yang dilaksanakan di pondok pesantren,” ungkapnya.

HIPKA juga berharap agar usaha di bidang peternakan burung puyuh ini hanya diperuntukkan UMKM dengan membatasi  korporasi besar agar tidak masuk ke industri tersebut. 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)