logo rilis
Hidup yang Surut, “Isih Penak Jamanku”
kontributor kontributor
Dadang Rhs
01 Oktober 2017, 22:10 WIB
Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID
Hidup yang Surut, “Isih Penak Jamanku”

PIYE kabare? Isih penak jamanku, toh?” Bagaimana kabarnya? Masih enak zamanku, kan? Kalimat ini seperti gurauan ringan. Enteng. Belakangan, “penak jamanku” menjadi slogan atas sebuah identitas. Pada kalimat ini, ditautkan foto Jenderal Besar Soeharto dengan senyum smiling general. Presiden ke-2 republik ini. Mantan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar. Partai yang semula tak mau disebut partai. Saat sang jenderal besar ini lengser, para pemujanya banyak yang dengan segera membelakangi Bapak Pembangunan ini.

Identitas memang kerap mengecoh. Ia bahkan digenangi niat culas. “Identitas adalah salah satu musuh dalam selimut tersebut. Kita semua mengira kita paham apa makna kata itu dan terus memercayainya, bahkan ketika dengan culasnya ia mulai berucap sebaliknya.” Kutipan ini ditulis Amin Maalouf dalam buku In the Name of Identity.

Baca Juga

Kerinduan. Romantika. “Masih enak zamanku, toh?” Cerita masa silam yang dibaluri dengan mimpi. Sesuatu yang lampau dalam riwayat yang terbatas. Kerinduan akan masa silam dalam potret dengan ingatan yang dibingkai. Pada ingatan yang singkat, masa silam seolah dijadikan sesuatu yang paripurna. Tempat berlindung dari teduhnya ketakberdayaan. Masa silam adalah romantika yang kerap menghindar dari dinamika dan dialektika sejarah. Membangun realitas maya dalam hidup yang samar. Lalu, seakan ingin menjadikan hidup sebagai sesuatu yang surut.

Potret identitas yang diselewengkan ini juga pernah menjadi lakon dalam babak kekuasaan Orde Baru. Sejarah pernah dipatah-patahkan demi keseragaman dan pembungkaman atas sesuatu yang di luar identitas "kuning". Ingat zaman itu? Zaman di mana semua harus berwarna sama: kuning. Hingga ada istilah “kuningisasi”. Atap rumah, pagar, jembatan, hingga marka jalan, bahkan hampir semua sudut dikuningkan. Kalau tidak, akan mendapatkan identitas baru: anti-pembangunan.

Ada yang ingat? Saat sejarah dibuat berdasarkan selera kekuasaan Orde Baru. Bahwa setiap perbedaan dapat dengan mudah dianggap sebagai kejahatan. Bahkan, saat itu, ada istilah "disukabumikan". Orang-orang bisa "dipetruskan”. Bagi yang dianggap tak sejalan, dengan mudah dapat dituduh komunis, ekstrem kiri, ekstrem kanan, dan atau anti-Pancasila. Politik dipenuhi stigma. Kartu Tanda Penduduk sebagai identitas warga mendapat tambahan kodifikasi khusus untuk mereka yang dianggap mbalelo.

Bagaimana kabar saat itu? Kabarnya, dulu di era "penak jamanku" setiap pemilu pemenangnya sudah hampir pasti: Golkar (Golongan Karya). Semua aparatus negara wajib memilih dan rakyat dimobilisasi untuk memihak golongan "kuning" ini.

Masih ingat? Ada frasa ini: “Tak gebuk!” Protes adalah aib. Mahasiswa dipenjarakan dengan pasal kolonial Haatzai Artikelen. Bahkan, tak sedikit aktivis gerakan yang dirasa melawan oleh Orde Baru, dihilangkan paksa. Dan, hingga kini, tak tahu rimbanya. Kebebasan berserikat dibatasi. Dituding Organisasi Tanpa Bentuk (OTB). Seniman kritis dibungkam dan dilarang mentas. Buku-buku kritik diberangus. Bahkan aktivis yang menjual buku dipenjarakan.

Oh iya, pers pada masa itu haruslah menjadi pers yang bertanggung jawab. Kalau tidak, akan diberangus. Diberedel. Berita benar akan jadi salah jika sedikit saja terasa menyinggung perasaan kaum “penak jamanku”. Maka, bersiap-siaplah untuk mendapat telepon dari Departemen Penerangan yang dipimpin Harmoko.

Ingat Harmoko? Di penghujung kekuasaan Orde Baru, lelaki berambut klimis ini adalah Ketua Umum Golkar. Harmoko populer dengan kalimat, “Menurut petunjuk Bapak Presiden.” Harmoko, beberapa saat menjelang Soeharto dilengserkan, adalah orang yang mengabarkan bahwa segenap rakyat republik ini masih menginginkan dan mencalonkan kembali Soeharto sebagai presiden.

Demikianlah, sekilas kabar di era “penak jamanku” itu. Zaman ketika kebenaran menjadi tunggal. Demokrasi ditempatkan dalam satu sisi. Demonstrasi berarti anti. Politik dengan satu warna. Berita dalam satu warta. Kata-kata acap penuh dusta. Satu masa di mana kekuasaan dipaksakan dalam "kebulatan tekad".

“Ada darah di tangan mereka semua: Komunisme, Liberalisme, Nasionalisme, tiap-tiap agama besar, bahkan sekularisme. Tak seorang pun memonopoli fanatisme, tak seorang pun memonopoli nilai-nilai kemanusiaan." Kalimat Amin Maalouf ini adalah pengingat, agar kita waspada, akan sesuatu yang dapat bersembunyi di balik kemuliaan identitas. Suatu kejahatan yang dibungkus dengan kebaikan.

Alhasil, identitas memang kerap mengecoh bahkah berbalik menjadi culas. Jadi, piye, isih gelem penak jamanku? Kemudian hidup kembali menjadi surut. Wallahu a’lam.

*Tulisan revisi, sebelumnya pernah dimuat nefosnews.com


#Penak Jamanku
#Orde Baru
#Soeharto
#Kolom
#Merdeka
#Dadang Rhs
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID