logo rilis

Herman HN 'Pundung', PPP: Merendahkan Derajatnya Sendiri
Kontributor
Tio Pirnando
01 April 2018, 15:13 WIB
Herman HN 'Pundung', PPP: Merendahkan Derajatnya Sendiri
Calon Gubernur Lampung Herman HN (kedua dari kiri) sebelum walkout. FOTO: rilislampung

RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lampung, Hali Fahmi AR, menyayangkan aksi walk out calon Gubenur (Cagub) Lampung Herman HN dalam acara bedah visi dan misi di Universitas Lampung.

Menurutnya, sebagai calon pemimpin, Herman HN tidak menunjukkan sikap emosional, apalagi terhadap mahasiswa yang merupakan generasi penerus bangsa. Sebaiknya, Herman menjelaskan kepada mahasiswa bahwa tantangan, gejolak serta menguraikan permasalahan rakyat itu sangat berat.

"Jangan langsung emosi, kalau begitu caranya turun derajatnya dari mahasiswa," ujar Hali kepada rilis.id, Minggu (1/4/2018).

Dalam acara bedah visi dan misi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lampung (BEM Unila), cagub nomor urut dua yang diusung PDIP ini mengaku kecewa dan pundung karena moderator tidak memberikan jatah waktu sesuai yang ditetapkan.

"Itu tidak bagus, seharusnya lebih arif diajak bercandalah dengan mahasiswa itu jangan menunjukkan emosi," kata Hali.

Lebih lanjut, Hali menyarankan agar Herman HN bisa menunjukkan jiwa besar, jiwa seorang pemimpin yang tidak kecewa dengan hal-hal yang kecil, apalagi kecewa karena merasa tidak diberi jatah waktu 10 menit dalam memaparkan visi-misi.

"Tidak main tinggal-tinggal saja, karena kalau mahasiswa yang mendengarkan visi misi jauh lebih berkualitas dari masyarakat," pungkasnya.

Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Suko Widodo juga menilai sikap walk out calon Gubernur Lampung Herman HN kurang elok di mata publik. Menurutnya, sebuah dialog dalam suatu acara adalah bagian dari proses kampanye dan juga sebagai proses komunikasi politik sehingga perlu diperhatikan.

Suko menjelaskan, dalam hukum komunikasi, seorang komunikator atau narasumber harus berpegang pada hukum komunikasi yang harus memenuhi prasarat REACH (respect, emphaty, audible, clarity dan humble).

"Nah, dari hukum ini tampaknya tindakan meninggalkan acara itu tidak memenuhi kriteria prasarat. Dampaknya komunikasi menjadi gagal dan melahirkan efek kurang elok untuk mencari dukungan publik padahal kan maunya cari simpati," ungkapnya.

Editor: Yayat R Cipasang


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)