logo rilis
Hendak Liput Ledakan Pertama, Bom Kedua Meledak di Tengah Wartawan
Kontributor
Syahrain F.
30 April 2018, 18:27 WIB
Hendak Liput Ledakan Pertama, Bom Kedua Meledak di Tengah Wartawan
Pasukan keamanan Afganistan tampak tengah bertiarap dalam situasi pasca-ledakan bom di wilayah Shashdarak, Kabul, pagi ini (30/4/2018). Debu tebal yang memenuhi udara membuktikan foto tersebut diambil sesaat setelah ledakan bom yang menewaskan 25 orang, termasuk delapan awak media. Credit: Reuters/Omar Sobhani

RILIS.ID, Kabul— Delapan jurnalis berada dalam deretan 25 korban tewas akibat bom yang meledak di ibu kota Afganistan, Kabul, pagi ini (30/4/2018). 

Melansir kantor berita Associated Press, saksi di lapangan menuturkan, bom meledak sebanyak dua kali. Ledakan pertama terjadi sekitar pukul 8 pagi dan menarik para jurnalis untuk meliput ke lokasi.

Namun nahas, ketika para jurnalis tengah meliput pascaledakan pertama, bom kedua meledak tepat di dekat mereka berdiri. 

Juru bicara kepolisian Afganistan, Stanekzai, menjelaskan, bom kedua tampaknya memang sengaja menarget orang-orang yang berupaya menolong korban ledakan pertama dan para jurnalis.

Pelaku pada ledakan kedua berpura-pura menjadi jurnalis dan berjalan ke kerumunan awak media dan meledakkan diri. Stanekzai mengatakan, pelaku secara jelas menargetkan para jurnalis dalam serangan kedua itu.

Komite Keselamatan Jurnalis Afganistan mengonfirmasi tujuh jurnalis dari media lokal dan satu dari kantor berita asing tewas dan enam lainnya terluka. 

Melansir Reuters, dua reporter dari Mashal TV, seorang juru kamera dan reporter 1TV, dua reporter Radio Azadi, dan seorang dari TOLO News merupakan korban tewas dari media lokal. Sementara kepala fotografer dari kantor berita Prancis Agence France-Presse (AFP) bernama Shah Marai juga berada di antara daftar tersebut.

"Saya melihat para jurnalis berlumur darah. Serangan kali ini menarget awak media," kata Jawed Ghulam Sakhi, saksi mata yang bercerita pascakejadian.

Lokasi terjadinya ledakan, di Shashdarak, berada dekat dengan kantor intelijen Afganistan, Kedubes Amerika Serikat, serta bangunan pemerintah lainnya seperti Istana Kepresidenan.

Afganistan merupakan salah satu negara yang paling berbahaya di dunia bagi para jurnalis. Tahun lalu sebanyak 20 jurnalis terbunuh. Pekan lalu, seorang pelaku tak dikenal menembak seorang jurnalis di kota Kandahar.


500
komentar (0)