logo rilis
Hati-hati! Ternyata Anak Mudah Terbujuk Paham Radikal
Kontributor
Elvi R
15 Mei 2018, 10:47 WIB
Hati-hati! Ternyata Anak Mudah Terbujuk Paham Radikal
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Indonesia Child Protection Watch Erlinda mengatakan, anak mudah terbujuk untuk ikut dalam paham radikalisme, termasuk aksi terorisme.

Berdasarkan tinjauan aspek psikologi, ungkapnya, hal ini dikarenakan berbagai faktor, terutama lingkungan keluarga.

"Karena, orang tua mempunyai peran penting dalam fase pembentukan karakter anak," ujarnya saat dikonfirmasi rilis.id, di Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Pola pikir anak pun, lanjut Erlinda, dipengaruhi oleh orang terdekat atau orang tua. Pengambilan keputusan sangat bergantung pada mereka. Sedangkan kemampuan adaptasi remaja dipengaruhi oleh nilai-nilai yang didapatkan di lingkungan sosial, dan keluarga. Maka, keluarga adalah pihak pertama yang memberikan dasar-dasar nilai bagi anak.

"Perilaku tindak kriminal oleh anak atau remaja merupakan akibat dari aspek psikososial," ungkap Erlinda.

Erlinda menyebut, remaja memiliki karakteristik yang unik. Berdasarkan teori Strum and drung masa remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak menuju dewasa dan remaja berada pada masa badai topan. Berdasarkan teori psikolog G. Stanley Hall, remaja mempunyai jiwa yang meletup dan ingin diakui keberadannya.

"Ciri khas remaja adalah belum memilki identitas yang jelas dan sedang mengalami krisis identitas," katanya.

Oleh karenanya, menurut Erlinda, keberhasilan pencegahan terorisme tidak hanya pada level kebijakan pemerintah, penegakan hukum tetapi dikuatkan pada aspek pencegahan. Hal ini dilakukan dengan penguatan ketahanan keluarga serta program rehabilitasi pada keluarga yang terkontaminasi pada paham radikal. 

"Benteng utama penangkalan paham radikal terorisme adalah peran ibu dan perempuan dalam keluarga. Karena itulah, peran perempuan sangat strategis dalam edukasi dan literasi terhadap keluarga khususnya anak-anak agar terhindar dari paham kekerasan dan terorisme," pungkas Komisioner KPAI Periode 2014 - 2017.


500
komentar (0)