logo rilis
Hasil Polling PSI, Mahfud MD Cawapres Terkuat untuk Jokowi
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
15 Juli 2018, 14:16 WIB
Hasil Polling PSI, Mahfud MD Cawapres Terkuat untuk Jokowi
FOTO: Humas PSI

RILIS.ID, Jakarta— Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merilis hasil polling tekait kandidat calon wakil presiden (cawapres) Joko Widodo di kantornya, Jakarta, Minggu (15/7/2018). Hasilnya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD meraih suara terbanyak di antara 12 nama yang disodorkan PSI.

Polling itu digelar oleh PSI pada periode 11 April sampai 22 Mei 2018 di website resminya. Total peserta polling mencapai 71.106 orang, dan 74 persen responden merupakan kalangan berusia di bawah 45 tahun.

Hasil polling itu, 32 persen responden memilih Mahfud MD sebagai cawapres, kemudian Menteri Perekonomian Sri Mulyani Indrawati dan Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan masing-masing meraih 14 persen, Menteri KKP Susi Pudjiastuti 10 persen, mantan Panglima TNI Moeldoko 6 persen, dan mantan Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin 4 persen. 

Selain itu, ada Rusdi Kirana, Ketum PBNU Said Aqil Siroj, dan Ketum GP Ansor Yahya Cholil Qoumas masing-masing dipilih 3 persen responden. Sementara, pengusaha Chairul Tanjung dan Ketum Golkar Airlangga Hartarto masing-masing mendapat dukungan 2 persen, serta pengusaha Nadiem Anwar Makarim didukung 1 persen responden.

Selain itu, ada 6 persen responden memilih nama-nama dalam kategori pilihan lain. Di antaranya ada nama mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Imam Besar FPI Rizieq Shihab, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, dan beberapa nama lain. 

Menanggapi hasil polling itu, Ketua Umum PSI, Grace Natalie, menilai, Mahfud MD merupakan tokoh yang bisa menjadi pilihan tengah bagi Jokowi. Menurutnya, Mahfud akan bisa diterima oleh partai politik koalisi lantaran seorang profesional yang mumpuni. 

"Pak Mahfud ini mungkin titik temu terbaik. Beliau ini profesional non-partai. Nanti tidak ada partai politik yang tersinggung atau merasa tak terwakili. Tentu berbeda kalau cawapres diambil dari salah satu partai anggota koalisi," katanya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)