logo rilis

Hari Petani dan Menebar Semangat Energi Perubahan
Kontributor
RILIS.ID
24 September 2018, 16:40 WIB
Hari Petani dan Menebar Semangat Energi Perubahan

Oleh Visensius Manuela
Ketua Umum DPP Ikatan Pemuda Nias Indonesia


SETIAP tanggal 24 September selalu diperingati sebagai Hari Tani Nasional. Penetapan Hari Tani Nasional berdasarkan keputusan Presiden Soekarno tanggal 26 Agustus 1963 No 169/1963 menandakan pentingnya peran dan posisi petani sebagai entitas dan soko guru bangsa yang justru kerap dilupakan saat ini.

Presiden Soekarno tentu sangat paham betul dengan kondisi masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduk Indonesia adalah kaum tani dengan tingkat kesuburan tanah yang sangat bagus, sehingga prsesiden Sukarno membuat undang-undang pro tani, atau dalam bahasa popular Sukarno yaitu kaum Marhaen. Keputusan presiden Sukarno di buat salah satunya agar tidak terjadinya kepemilikan lahan yang besar oleh segelintir orang saja.

Semangat Hari Tani Nasional masih sangat relevan hingga saat ini. Melihat kondisi nya, pertanian di Indonesia bagaikan raksasa pingsan yang tak kunjung bangun, alih- alih ia siuman, pertanian Indonesia terancam koma hingga akhirnya menunggu waktu untuk menutup mata.

Misalkan saja, hari ini masih hangat kita saksikan saat ini bagaimana Bulog dan Kementerian Perdagangan masih belum sepemahaman soal impor beras. Saat jumlah cadangan beras telah berlebih namun Kementerian Perdagangan masih ngotot untuk tetap mengimpor beras, dan nasib petani dipertaruhkan terhadap harga beras saat musim panen tiba awal tahun depan.

Nawacita

Tanah adalah modal dasar bertani. Kepemilikan tanah rata-rata petani cuma 0,3 hektare per keluarga. Nawacita Jokowi membagi sertifikat tanah belum mampu menjawab persoalan kesejahteraan petani karena tanah yang mereka punya belum mampu masuk dalam skema bisnis, hanya mampu untuk bertahan hidup bulan lepas bulan. 

Kondisi kekeringan melanda puluhan kabupaten, irigasi masih rusak 52 persen, dan untuk hal ini pemerintah sedang berpacu untuk menuntaskan Infrastruktur pendukung pertanian pun patut di apresiasi.

Jika menengok sedikit ke tetangga negara yaitu Thailand, dapat dilihat bahwa Thailand mempunyai produktivitas sektor pertanian yang jauh lebih tinggi dibanding Indonesia. Saat ini petani padi di Indonesia umumnya hanya bisa memanen padinya 1-2 kali dalam setahun sedangkan petani Thailand dapat memanen padinya 1-5 kali dalam setahun.

Hal ini terjadi karena di Indonesia memang masih sangat kurang dalam mekanisasi pertaniannya. Petani di Indonesia sebagian besar masih menggunakan sistem pertanian tradisional. Padahal jika dilihat potensi alam yang ada jauh lebih besar berada di Indonesia. Peran petani, kaum muda maupun pemerintah memang sangat penting untuk memajukan sektor pertanian Indonesia saat ini. Semua sisi harus saling berkolaborasi untuk menciptakan kondisi dimana semua potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal.

Petani adalah sokoguru bangsa. Mereka penyedia pangan di meja makan semua. Namun petani sering kali dilupakan. Profesi petani tak lagi atraktif. Pun konotasi petani Indonesia itu gurem, kucel, miskin, bodoh. Banyak orang petani berjuang mati-matian untuk menyekolahkan anaknya untuk berjuang agar anaknya dapat sekolah dan tidak menjadi petani seperti ayahnya, tentunya kondisi tragis bagi masyarakat agraris dengan luas sawah yang melimpah.

Sosok Ilham Mendrofa

Mengenal seorang sarjana pertanian yang berasal dari kampung halaman dan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berkutat pada persoalan pertanian adalah sebuah pengalaman berharga. Beranjak dari bangku kuliah mempelajari pertanian ternyata tidak cukup membuat Ilham Mendrofa mendorong dirinya terjun di dunia pertanian dengan pendekatan pasar, melihat skema produksi dan distribusi produk. Namun mengambil perspektif humaniora untuk mengerti filsafat pertanian dan tujuan keilmuan tersebut membangun peradaban menjadi dasar dari pengabdian profesi Ilham Mendrofa terjun dalam dunia pertanian.

Telah menggeluti berbagai organisasi yang berjuang untuk pertanian sejak jenjang kuliah misalkan, sebagai ketua bidang advokasi Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia di Universitas Negeri Lampung, direktur Yayasan Tani Indonesia 1999-2001, dan saat ini aktif sebagai ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian (PISPI) Provinsi Lampung. Sederet aktivitas tersebut membawa Ilham Mendrofa melihat banyak persoalan terkait pertanian yang harus diselesaikan dan harus segera dikerjakan.

Telah memulai berkarya sebagai pengusaha sukses di bidang pertanian pun ternyata tidak membuat Ilham Mendrofa merasa banyak membantu menyelesaikan masalah petani, pertemuan nya dengan berbagai elemen masyarakat tani Indonesia mendorong Ilham Mendrofa untuk terjun dalam wadah pengambilan keputusan yang dapat memberikan dampak lebih besar pada perubahan hidup masyarakat tani Indonesia.

Memilih jalan ini bukanlah jalan yang nyaman bagi seorang yang memiliki opsi “nyaman” sebagai seorang pengusaha dengan penguasaan manajemen pasar yang baik dengan profit yang baik pula, namun panggilan untuk turut terlibat dalam menyelesaikan persoalan berdengung dan mengeras sedemikian rupa dalam pergulatan keseharian seorang Ilham Mendrofa, setidaknya menurut penulis mejadi bayangan yang mengisi benak Ilham Mendrofa setiap malam sebelum ia tidur.

Perkenalan penulis yang cukup singkat namun hangat dengan Ilham Mendrofa sebagai pemuda dengan asal kampung halaman yang sama dalam berbagai aktivitas kepemudaan, terutama semangat dalam mendorong gerakan Pemuda Nias membuat saya yakin bahwa negeri ini membutuhkan semangat yang dimiliki Ilham Mendrofa untuk menggagas perubahan dan semangat turun tangan. 

Pengalaman yang lebih dari cukup menekuni dunia pertanian, kesuksesan membangun lapangan pekerjaan dan mendorong berbagai terobosan pada dunia usaha di bidang pertanian serta kehadirannya di berbagai persoalan tidak hanya pertanian namun kepemudaan, kewirausahaan, pendidikan dan hal lainnya. Ini adalah sebuah keyakinan untuk mendorong yang penulis anggap “senior” dan juga “abang” untuk menuntaskan ikhtiar panggilannya berkontestasi pada perjuangan suara rakyat di tahun mendatang.

Belajar dari Hari Tani

Hari Tani Nasional harus diperingati segenap bangsa Indonesia dengan kegembiraan dan panggilan. Bahwa kita masih punya petani yang memberihkan jerih lelah nya untuk titipan tanah subur dari Sang Pencipta dan panggilan bahwa kita harus selalu menyejahterakan petani. 

Bahwa problem itu selalu ada adalah sebuah realitas, dan tanggung jawab untuk menyelesaikan setiap masalah adalah ikhtiar dari panggilan tersebut.

Ilham mendrofa adalah satu dari sedikit orang yang memberanikan diri terjun dalam pertarungan tersebut, bahwa ia keluar dari zona nyaman adalah panggilan yang ia hidupi.

Merasakan semangat Ilham Mendrofa yang penulis rasakan dari kehadirannya dari setiap cerita dan komunikasi dunia maya yang biasanya terjadi tengah malam hingga subuh hari adalah sebuah energi yang tidak akan pernah penulis lupakan. Ya, karena sebaik-baiknya dukungan adalah sebuah kehadiran.

Energi dalam hukum fisikanya adalah sebuah keabadian, ia tidak diciptakan, ia tidak dapat dimusnahkan, namun ia dapat bberubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain. Semangat Hari Tani dan Ilham Mendrofa bagi penulis adalah sebuah energi, ia tidak diciptakan oleh Ilham Mendrofa namun terinternalisasi kepada Ilham Mendrofa dan bertransformasi menjadi karya.

Jika hari ini kita belajar bahwa dari sektor pertanian masih banyak problem yang harus diselesaikan dan menunggu untuk segera di kerjakan, maka tugas kita adalah memaknai setiap proses, panggilan dan profesi kita sebagai sebuah pelayanan dan tugas untuk menebar energi tersebut. Sekali lagi, selamat Hari Tani Indonesia, selamat kepada para pejuang pertanian Indonesia!


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)