logo rilis
Hari Peringatan Reformasi, Sejarah Kemerosotan Soeharto
Kontributor
Ning Triasih
21 Mei 2018, 14:43 WIB
Hari Peringatan Reformasi, Sejarah Kemerosotan Soeharto
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Jika Anda melongok sejarah, pasti tahu jika setiap 21 Mei, Indonesia mengenang Hari Peringatan Reformasi. Sebuah momen yang sangat lekat pada peristiwa besar di pemerintahan era 90-an.

Ya, tepatnya pada 21 Mei 1998, ada momen sejarah yang cukup kelam menerpa Indonesia kala itu. Soeharto menyatakan mundur sebagai Presiden Republik Indonesia (RI).

Pengunduran dirinya sebagai pemimpin Indonesia dibacakan Soeharto di Istana Merdeka sekitar pukul 09.00 WIB. Hal ini sebagai respons atas desakan para mahasiswa yang menuntutnya agar berhenti menjadi pemimpin Tanah Air.

Peristiwa ini dilaterbelakangi oleh krisis moneter (krismon), ditandai dengan turunnya kurs rupiah, dari sekitar Rp2.000 per dolar AS turun menjadi Rp17.000 per dolar AS.

Akibatnya, ribuan mahasiswa melakukan demo besar-besaran yang disebut sebagai gerakan Reformasi. Mereka menguasai Gedung DPR-RI dan menuntut Soeharto mundur. 

Masa kepemimpinan Soeharto kala itu makin memanas dengan ditembaknya mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta oleh aparat yang waktu itu berjaga. Tentu saja, hal itu makin membuat mahasiswa naik pitam.

Lambat laun, Soeharto sadar jika posisinya sebagai pemimpin Indonesia makin terguncang dan melemah Ketika kegalauannya mencapai puncak, atas berbagai pertimbangan, akhirnya ia memutuskan mundur.

Soeharto melepas jabatannya sebagai Presiden RI dan menyerahkan kekuasaannya pada Wakil Presiden BJ Habibie. Kemunduran Soeharto adalah awal jatuhnya orde baru.


500
komentar (0)