logo rilis
Basarah: Persatuan Nasional, Pesan Kebangsaan Peringatan Sumpah Pemuda
Kontributor
Nailin In Saroh
28 Oktober 2019, 07:45 WIB
Basarah: Persatuan Nasional, Pesan Kebangsaan Peringatan Sumpah Pemuda
wakil Ketua MPR, Ahmad Basarah.

RILIS.ID, Jakarta— Hari ini, Senin (28/10/2018), bangsa Indonesia merebut momentum 91 tahun Sumpah Pemuda. Pelajaran penting yang bisa diteladani dari Sumpah Pemuda adalah semangat persatuan nasional. Kongres Pemuda pada tahun 1926 dan 1928 menjadi bukti kredibilitas itu, pemuda-pemudi membuktikan menanggalkan identitas kedaerahan (etnonasionalisme) dan melebur ke dalam identitas tunggal ke-Indonesia-an.

Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah menjelaskan bahwa pesan kebangsaan dari Sumpah Pemuda adalah semangat Persatuan Nasional. Karena tidak mengherankan, jika dalam Kongres Pemuda II begitu kental dengan simbol-simbol persatuan. 

Sebagai contoh, Mengapa saat ini bukan Bahasa Jawa yang dipilih sebagai Bahasa Persatuan? Bahasa Jawa dianggap memiliki stratifikasi sosial yang ketat dan berkebudayaan tinggi, padahal bangsa yang diwujudkan adalah bangsa egaliter. Jika Bahasa Jawa dipilih sebagai bahasa persatuan, maka kesan yang muncul akan lebih mengukuhkan posisi orang Jawa yang dominan dan menyebabkan disintegrasi bangsa yang akan dibentuk. Demi Persatuan Nasional maka Dipilih Bahasa Melayu. 

"Bahasa Melayu adalah Bahasa Lingua Franca (bahasa perhubungan) yang menjembatani pergaulan antar suku dan perdagangan serta antar wilayah. Bahasa Melayu terbuka dan koordinasi sehingga terpilih sebagai Bahasa Persatuan," jelas dosen tetap Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma) tersebut  

Dijelaskan Basarah, pelajaran penting lain yang bisa dipetik dari momentum Sumpah Pemuda adalah soal peran dan partisipasi peranakan Tionghoa dan keturunan Arab. Tempat yang digunakan sebagai lokasi deklarasi Sumpah Pemuda tahun 1928 di jalan Kramat Raya Nomor 106 (sekarang Museum Sumpah Pemuda) adalah rumah milik peranakan Tionghoa Sie Kong Liong. 

 

Kemudian 4 (empat) orang peranakan Pemuda juga hadir dalam Kongres Pemuda II. Mereka adalah Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Djin Kwie. Surat Kabar Lengkap Melayu-Tionghoa, Sin Po adalah surat kabar yang pertama kali berjudul Lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman, diterbitkan pada edisi mingguan No. 293 tanggal 10 November 1928.

Sejarah juga mencatat peran AR Baswedan dalam menggelorakan semangat Sumpah Pemuda di kalangan peranakan Arab. AR Baswedan menjadi motor penggerak Sumpah Pemuda keturunan Arab yang dilaksanakan di Semarang pada 4 Oktober 1934. Ada tiga yang menyatakan sumpah pemuda Keturunan Arab: Pertama, Tanah air peranakan Arab adalah Indonesia. Kedua, Peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri), dan Ketiga, Peranakan Arab memenuhi persyaratannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

"Inilah pesan kebangsaan yang penting yang bisa kita teladani. Diperlukan sejak awal fondasi bangsa Indonesia adalah keberagaman. Puspa ragam kemajemukan ini, tidak hanya sebagai modal utama bangsa Indonesia, hanya sebagai warisan dari generasi baru. merawatnya, "terang Ketua Umum Persatuan Alumni GMNI itu. 

Di sisi lain, Basarah juga mengubah dinamika kehidupan pemuda di era milenial. Menurutnya ada banyak perbedaan yang menarik antara masa muda dengan pemuda kekinian. Sumpah Pemuda menyatukan perbedaan dengan menguatkan identitas nasional, sedangkan pemuda di era kekinian malah sibuk memperdebatkan perbedaan. Dulu Pemuda menghasilkan Sumpah Pemuda. Namun kini, sebagian besar pemuda mendeklarasikan Sumpah Khilafah. Sumpah Pemuda membuat Bahasa Indonesia sebagai bahasa dan simbol persatuan, namun pemuda di era milenial berusaha mencampuradukan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Asing.  

"Sebagai bangsa Indonesia, kami wajib memenuhi syarat dengan Bahasa Indonesia. Terlebih Presiden Joko Widodo telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 63 tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia. Perpres ini tidak hanya sebagai upaya menegakkan identitas kebangsaan, mencari cara untuk memperkokoh karakter bangsa," demikian penjelasan Basarah.

 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID