logo rilis
Harga Telur di Sentra Tulungagung Meroket, Kenapa?
Kontributor
Elvi R
12 Juli 2018, 15:25 WIB
Harga Telur di Sentra Tulungagung Meroket, Kenapa?
Telur di Pedagang Tradisional. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Tulungagung— Sejumlah pedagang menduga harga telur dalam sepekan terakhir mengalami kenaikan di wilayah Tulungagung dan sekitarnya karena stok menipis. Hal ini karena banyak peternak mengirim produksi telurnya ke luar daerah.

"Suplai ke luar kota banyak. Akibatnya stok lokal menipis, padahal permintaan dan kebutuhan di pasar lokal tinggi," kata Mahmudah, salah seorang pedagang telur di pasar tradisional Ngemplak, Kota Tulungagung, Rabu (12/7/2018).

Menurutnya, pengakuan sejumlah pedagang lain yang mengeluhkan sulitnya mendapat pasokan telur, khususnya jenis ras. Kendati masih dapat pasokan, namun volumenya kini dibatasi. Akibatnya, perlahan namun pasti harga telur mengalami kenaikan sejak sepekan terakhir.

Jika saat Lebaran lalu harga telur ayam ras masih di kisaran Rp20 ribu per kilogram, kini justru naik menjadi Rp27 ribu hingga Rp28 ribu per kilogram.

Tak hanya telur ayam ras yang mengalami lonjakan, harga telur kampung, telur bebek dan telur puyuh juga mengalami kenaikan. Telur ayam kampung kini dijual sekitar Rp2.500 per butir, dari sebelumnya Rp2.300 pada satuan yang sama.

Sementara telur bebek kini mencapai Rp2.000 per butir, menjadi Rp2.500 per butir.

"Telur puyuh juga naik menjadi Rp2.600 per kilogram, sebelumnya masih Rp2.400 per kilogram," kata Mahmudah.

Akibat kenaikan itu, bagi pedagang, penjualan menurun drastis. Dalam kondisi normal Mahmudah sejumla pedagang telur lain mengaku biasanya bisa menjual hingga 60 kilogram lebih telur ayam ras.

Namun saat ini, omzet mereka turun sekitar 50 persen. "Bisa menjual 30 kilogram saja sudah bagus," ucap Siti Rohmah, pedagang lain.

Versi peternak, kenaikan harga telur ayam ras bukan semata karena suplai lebih banyak ke luar kota ketimbang untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.

Seperti diungkapkan Rudiani, peternak ayam ras petelor di Desa Bangoan, Kedungwaru, produksi telur ayam ras saat ini memang mengalami penurunan antara 15-20 persen.

"Selain itu populasi ayam ras petelur di tingkat peternak musim ini memang sedang menurun karena banyak yang melakukan peremajaan," ujarnya.

Rudiani juga menduga pelarangan antibiotik AGP dalam campuran pakan oleh pemerintah dia sinyalir ikut menjadi faktor penyebab turunnya kuantitas produksi ayam ternak mereka.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)