logo rilis
​Harga Daging Ayam dan Telur 'Meroket', Kementan: Enggak Masuk Akal!
Kontributor
Fatah H Sidik
11 Mei 2018, 17:18 WIB
​Harga Daging Ayam dan Telur 'Meroket', Kementan: Enggak Masuk Akal!
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita (tengah), saat jumpa pers tentang kenaikan harga daging ayam dan telur jelang Ramadan dan Lebaran di Gedung Kementan, Jakarta, Jumat (11/5/2018). FOTO: RILIS.ID/Fatah Sidik

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita, menganggap, kenaikan harga ayam jelang Ramadan tak masuk akal. Salah satu alasannya, sudah mengekspor daging ayam olahan ke sejumlah negara.

"Kita sudah ekspor ke berbagai negara, tapi dalam negeri bergejolak, kan, enggak masuk akal," ujarnya saat jumpa pers di Gedung Kementan, Jakarta, Jumat (11/5/2018).

"Artinya, kalau sudah ekspor, orang kaya itu. Masa orang kaya berkelahi?" imbuh peraih gelar master dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

Sebagai informasi, ekspor telur ayam tetas ke Myanmar sejak 2015 hingga Maret 2018 mencapai 10.482.792 butir senilai Rp109,6 miliar. Sedangkan ekspor daging ayam olahan ke Jepang mencapai 12,5 ton, Timor Leste 6,6 ton, dan Papua Nugini 24 ton.

Ada juga ekspor 10 ribu ekor ayam umur sehari (day old chicken/DOC) ke Timor Leste. Realisasinya baru 2.000 ekor pada 4 Mei.

Alhasil, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), capaian ekspor daging ayam 2017 menjadi 325 ton atau naik 1.800 persen dibanding tahun sebelumnya. Torehan positif juga untuk ekspor telur unggas. Pada tahun lalu, nilainya meningkat 27,39 persen (386 ton), dibanding 2016.

Pertimbangan lainnya, angka produksi melampaui kebutuhan nasional, baik daging maupun telur ayam. Ketersediaan telur surplus sekira 202.195 ton, karena kebutuhan cuma 2.766.760 ton dan produksinya 2.968.954 ton.

Sedangkan daging ayam, prognosis produksinya pada 2018 ditaksir mencapai 3.565.495 ton. Adapun konsumsi nasional cuma 3.047.676 ton. "Surplus 517.819 ton," tambah Ketut.

Sementara itu, produksi telur selama Ramadan-Lebaran (Mei-Juni) diperkirakan 521.335 ton dan kebutuhan 485.831 ton. Dengan demikian, surplus 35.504 ton. Sedangkan daging, diprediksi kelebihan stoknya mencapai 90.926 ton. Sebab, konsumsi cuma 535.159 ton dan produksinya sekira 626.085 ton. 

Apalagi, lanjut Ketut, Ditjen PKH Kementan telah mengadakan pertemuan dengan integrator dan peternak mandiri di Denpasar, Bali, awal pekan ini. Dalam kesempatan tersebut, dicapai kesepakatan "hitam di atas putih" antara integrator dengan peternak mandiri dan dirinya menjadi saksi.

Kesepakatan tersebut, terkait distribusi DOC dari integrator kepada peternak mandiri. Dari permintaan 1.500 kotak DOC bibit niaga (final stock/FS) per pekan, tujuh integrator sepakat menyuplai 1.274 kotak DOC FS. Perinciannya, PT Charoen Pokphand 622 kotak, PT Japfa Comfeed 337 kotak, PT Bibit Indonesia 97 kotak, PT Wonokoyo Group 69 kotak, PT CJ-PIA 67 kotak, PT Cibadak Indah Sari Farm 52 kotak, serta PT Hybro Indonesia 30 kotak.

Mantan Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar itu menerangkan, pertemuan digelar dalam rangka menjaga stabilitas harga daging ayam dan telur selama Ramadan hingga Lebaran 2018. "Juga memperpendek rantai distribusi," jelasnya.

Ketut menambahkan, integrator berjanji terjun ke lapangan dan melakukan operasi pasar ke daerah yang harga daging ayam dan telurnya bergejolak. "Mengetahui titik kenaikan di mana, nanti saya akan perintahkan integrator grojok di sana," janji dia.

Eks Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH ini pun mengimbau, pedagang menjual daging ayam dan telur sesuai harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Aturan termaktub dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 27 Tahun 2017.

Di situ dijelaskan, harga daging ayam ras di tingkat peternak Rp18 ribu per kilogram dan Rp32 ribu per kilogram pada level konsumen. Sedangkan telur ras, harganya Rp18 ribu per kilogram di tingkat peternak dan konsumen Rp22 ribu per kilogram.


500
komentar (0)